Penutupan Atlas Harus Berproses, Gung Cok : Ini Keteledoran Yang Tidak Disengaja
Minggu, 09 Februari 2025
15:48 WITA
Denpasar
1640 Pengunjung

Ketua Fraksi Golkar DPRD Bali Anak Agung Bagus Tri Candra Arka. sumber foto: ist/SD
Denpasar, suaradewata.com- Ketua Fraksi Golkar DPRD Bali Anak Agung Bagus Tri Candra Arka alias Gung Cok yang juga Anggota Komisi IV DPRD Bali menyebutkan rekomendasi penutupan sementara Atlas Super Club oleh komisi I DPRD Bali kepada Pemerintah musti harus berproses. Pasalnya, sebuah usaha yang berdiri dalam pembuatan izin pun berproses, begitu juga dalam penutupan usaha pun harus berproses.
“Mereka membuat izin kan dalam proses, jadi proses dari penutupan itu pun juga harus berproses,” ungkap Gung Cok, Minggu, (09/02/2025).
Atas insiden yang terjadi adalah merupakan sebuah keteledoran. Sehingga tayanglah gambar yang menyerupai Dewa Siwa. Seperti apa yang dijelaskan oleh pihak Atlas saat pertemuan di Kantor DPD RI Renon, Rabu, (05/02/2025). Bahwa ada terselip yang menyerupai Dewa Siwa dalam night club atlas tersebut.
“Jadi saya jelaskan, pertemuan tanggal 5 Februari 2025 di kantor DPD, sehingga ditarik kesimpulan pada rapat tersebut dan ada surat pernyaaan bahwa kita semuanya memaafkan. Dan kita sudah mendengar penjelasan tersebut juga kita sudah memahami memang itu murni dari keteledoran dan kurang hati-hati, sehingga tayanglah gambar yang menyerupai Dewa Siwa,” jelasnya.
Beda hal, kata ia sesuatu kesalahan yang disengaja atau kesalahan berat. Misalnya langsung satu hari itu menggelar perayaan Siwa di club tersebut.
”Jadi ada panggungnya, Siwa ada famletnya, ada balihonya, DJnya pakai pakaian Siwa itu kan faktor sengaja bagi saya dah real. Jadi gambar terpampang terus, baliho disebarkan juga dan acara itu disebar luaskan melalui media sosial. Nah bagi saya itu faktor kelalaian yang sudah berat,” terangnya.
Atlas sendiri kurang lebih sudah berdiri 4 tahun di Berawa Tibubeneng. Kata ia, jika Atlas memang merugikan, tidak mungkin Atlas bisa berdiri sampai sekarang. Apalagi pada Sabtu, (08/02/2025), pihak Atlas menggelar upacara Guru Piduka dan dihadiri oleh Prebekel beserta pemangkunya di Berawa.
“Kegiatan Guru Piduka itu juga di-backup oleh masyarakat. Itu menandakan bahwa keberadaan Atlas di daerah itu didukung,” pungkasnya.
Dalam 4 tahun ini, kata Gung Cok, apakah daerah Berawa dirugikan oleh Atlas. Dan juga apakah Atlas selama ini beroperasi tidak membayar pajaknya ke Kabupaten.
“Nah ini makanya kita lihat lah, kita lihat substansinya, apakah itu karya seni apakah itu merupakan sengaja dilakukan untuk menodai perasaan atau pelecehan penodaan atau penistaan agama, makanya substansinya kita harus lihat,” imbuhnya.
Ia pun mengajak seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama menjaga kenyamanan dan keamanan Bali. Sehingga memberikan kesan yang positif untuk Bali.
Baca juga:
Kedepankan Pembinaan,, Visual Dewa Siwa di Atlas Bisa Masuk di Pasal 156 A Tentang Penodaan Agama
“Tidak dipungkiri bahwa Bali hanya ketergantungan pada pariwisata,” pungkasnya.ang/adn
Komentar