PT Suara Dewata Media - Suara dari Pulau Dewata

Jalan Anyelir I, Nomor 4A, Desa Dauh Peken, Kec. Tabanan, Kab. Tabanan, Bali

Call:0361-8311174

info@suaradewata.com

Mengenal dan Mewaspadai Virus Ebola, Bekal bagi para Jemaah Haji Indonesia

Kamis, 04 September 2014

00:00 WITA

Nasional

1976 Pengunjung

PT Suara Dewata Media - Suara dari Pulau Dewata

Opini, suaradewata.com- Dunia telah digemparkan dengan munculnya virus baru yang sangat mematikan, bernama Zaire Ebolavirus (EBOV). Virus Ebola pertama kali muncul pada tahun 1976 di Zaire dan Sudan. Zaire merupakan salah satu tingkat fatalitas kasus tertinggi dari virus patogen manusia, yaitu sekitar 90%. Dengan rincian tingkat fatalitas kasus di 88% pada tahun 1976, 59% pada tahun 1994, 81% pada tahun 1995, 73% pada tahun 1996, 80% pada 2001-2002, dan 90% pada tahun 2003. Sedangkan di Sudan tingkat fatalitas kasus sekitar 50%.

Virus tersebut kini tengah menyerang negara Liberia. Penularan virus ebola dapat terjadi melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh. Meskipun, hingga detik ini belum ada laporan kasus infeksi oleh virus Ebola. Tapi, ada baiknya masyarakat untuk lebih waspada. Dilihat dari kondisi geografis Indonesia yang mirip dengan Filipina, yang merupakan negara di Asia yang pernah dikonfirmasi positif Ebola pada seekor monyet. Artinya, tidak menutup kemungkinan virus ebola dapat mewabah di Indonesia.

Menurut Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, drh. Pudjiatmoko, PhD di Gedung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, mengatakan bahwa infeksi kasus penyebaran Ebola pada manusia dikaitkan dengan kontak langsung dengan hewan seperti simpanse, monyet, kijang hutan, mandril dan landak (Inang insidental). "Akan tetapi, diduga reservoir dari penyakit ini adalah kelelawar buah (fruits bats) jenis tertentu, yang jenisnya juga terdapat di Pulau Kalimantan. Pada hewan penyakit tersebut disebut dengan haemorragic fever.

Untuk itu, masyarakat harus mengetahui apa saja gejala klinis pada hewan yang tertular virus Ebola. Seperti demam, depresi diikuti gejala muntah, diare, bulu rontok, kekurusan, perdarahan petekhie di bawah kulit, gastroinstestinal dan membran mukosa, keluar darah dari lubang hidung, lemak, shock, dan mati.

Berikut ini adalah beberapa fakta yang wajib diketahui mengenai virus Ebola, yaitu sebagai berikut :

Virus Ebola bisa menyebabkan pendarahan internal dan eksternal serta merusak sistem kekebalan tubuh dan organ-organ tubuh yang sengat penting. Kerusakan internal yang disebabkan oleh virus ini menyebabkan darah sulit membeku, sehingga pasien bisa mengalami pendarahan hingga meninggal.

Ebola merupakan virus demam mematikan dan mencakup berbagai gejala termasuk demam, muntah, diare, sakit umum atau malaise, dan kadang-kadang internal dan eksternal pendarahan. Rentang waktu dari onset gejala mati adalah biasanya antara 2 dan 21 hari. Gejala pertama bisa terlihat seperti flu yaitu demam tinggi, sakit kepala, nyeri sendi, otot, rasa lelah, dan kurang nafsu makan. Namun ketika gejala ini terus berlanjut, tubuh akan mulai mengalami pendarahan seperti pendarahan pada gusi, hidung, mata, dan di sekitar kuku jari. Pada minggu kedua infeksi, pasien akan mengalami kegagalan sistemik multi-organ.

Tingkat kematian biasanya tinggi, dengan tingkat fatalitas kasus manusia yang berkisar 50–89%, tergantung pada spesies atau strain virus. Penyebab kematian ini biasanya disebabkan oleh kegagalan shock atau organ hypovolemic.

Ebola bisa menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh, baik dari manusia dan binatang yang terinfeksi. Di Afrika, binatang seperti monyet, simpanse, kelelawar, dan binatang lain bisa membawa Ebola. Seringkali ludah, feses, dan cairan tubuh mereka lainnya bisa menyebar pada manusia. Virus ini juga bisa menyebar melalui kontak langsung dengan benda-benda seperti meja, tempat tidur, dan lainnya, namun tidak bisa menyebar lewat udara dan air.

Berikut beberapa jenis tindak pencegahan terhadap penyebaran virus ebola yang bisa dilakukan:

Hindari daerah yang diketahui sebagai pusat awal wabah terjadi. Atau ketahui di negara mana saja virus ebola sudah menyebar. Sebagai contoh, sebelum bepergian ke Afrika, cari tahu tentang epidemi yang sedang berkembang saat ini. Cara yang dapat dilakukan dengan memeriksa ke situs Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.

Cuci tangan sesering mungkin. Tindakan pencegahan yang satu ini merupakan salah satu langkah penting yang perlu dilakukan. Sama halnya terhadap pencegahan yang ditimbulkan dari jenis penyakit menular lainnya. Cucilah tangan menggunakan sabun atau gunakan antiseptik yang mengandung setidaknya 60 persen alkohol ketika sabun dan air tidak tersedia.

Hindari daging hewan liar di dan dari negara berkembang. Hindari membeli atau memakan binatang liar, termasuk primata yang dijual di pasar lokal.

Hindari kontak fisik dengan orang yang terinfeksi. Perlu diperhatikan juga untuk menghindari kontak dengan cairan dan jaringan tubuh seseorang, termasuk darah, air mani, cairan vagina, dan air liur. Orang yang terjangkit virus ebola paling cepat menular pada tahap akhir, biasanya ketika korban dalam keadaan parah atau bahkan sudah meninggal.

Ikuti prosedur pengendalian infeksi. Jika Anda seorang petugas kesehatan, kenakan pakaian pelindung, seperti sarung tangan, masker, dan perisai mata. Jauhkan orang yang terinfeksi dari orang lain. Buang jarum dan sterilkan instrumen kesehatan lainnya.

Jangan sembarangan menangani mayat korban ebola. Mayat orang yang meninggal karena ebola masih dapat menular. Tim khusus dan terlatih harus mengubur mayat menggunakan peralatan yang tepat.

Meskipun kemungkinan virus ini masuk ke Indonesia masih cukup kecil, namun tak ada salahnya mengetahui fakta tersebut untuk membantu kita dalam lebih memahami virus mematikan yang saat ini tengah melanda negara lain. Dengan mengetahui sumber penyebab, gejala dan upaya mencegah penyebaran virus tersebut tentu akan bermanfaat bagi kita untuk menghindari hal-hal buruk yang akan terjadi. Dalam hal ini kemungkinan terjangkit virus mematikan tersebut,khususnya Jamaah haji Indonesia , disarankan para jamaah untuk lebih waspada terkait penularan virus Ebola yang mematikan dari jamaah Afrika. Seperti yang disampaikan oleh Kepala SMF (Staf Medik Fungsional) Penyakit Dalam Rumah Sakit Pusat Infeksi (RSPI), Dr. H.I. Firmansyah kepada detik.com. Disarankan agar para Jemaah menghindari kontak langsung dengan para jemaah dari Afrika khususnya dari negara-negara yang terjangkit virus tersebut, terutama dengan darah dan cairan tubuh yang lainnya. Di Indonesia sendiri belum ditemukan kasus Ebola, namun pemerintah terus melakukan upaya-upaya pencegahan dengan mensosialisasikan hidup bersih sebagai pencegahan penularan virus ini. Semoga pengetahuan ini bermanfaat bagi para Jemaah haji Indonesia, sehingga dalam menjalankan ibadah tetap nyaman dan tenang tidak terpengaruh oleh isu virus tersebut, karena telah memiliki pemahaman serta kewaspadaan.

Susan Kertapati : Penulis adalah Relawan Sehat Bangsaku dan pemerhati masalah kesehatan masyarakat.


Komentar

Berita Terbaru

\