Perilaku Barbaristik dalam Politik Aceh

Oleh : Pardiyanto/aga | 07 April 2017 | Dibaca : 2617 Pengunjung

Perilaku Barbaristik dalam Politik Aceh

sumber foto :google

Opini, suaradewata.com - Sangat ironis di jaman modern, dimana pembaruan peradaban yang mengagungkan penghormatan kepada hak asasi manusia (HAM), namun justru kultur kekerasan atau barbaristik menjadi pilihan dalam budaya politik. Lebih disayangkan, budaya barbaristik harus muncul di Aceh Nanggroe Darussalam yang merupakan serambi mekahnya Indonesia. Darussalam sering diartikan rumah Tuhan karena Darussalam adalah surga, sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Darusalam yaitu negeri yang sejahtera atau negeri yang aman, sehingga seharusnya memberikan kesejukan, keamanan dan kenyamanan bukannya kekerasan.

Sekitar pukul 03.30 Wib pada 5 Maret 2017, Juman menderita luka tembak di leher dan Misno menderita luka tembak di perut di Desa Peunaron Baru, Kec. Peunaron, Kab. Aceh Timur. Pelaku penembakan belum diketemukan, sehingga belum diketahui motif penembakan terhadap Juman dan Misno. Selanjutnya, sekitar pukul 03.00 Wib pada 6 Maret 2017, Posko Pemenangan Paslon Bupati – Wabup, Roni Ahmad – Fadhullah di  Seupeng, Kec. Peukan Baro, Kab. Pidie ditembak orang tak dikenal. Sebelumnya, sekitar pukul 02.30 Wib di hari yang sama, mobil Yunus Ismail berupaya dibakar oleh orang tak dikenal, di Gampong Seupeng Kec. Peukan Baro Kab. Pidie sepulangnya  dari posko Timses Roni Ahmad – Fadhullah.

Peristiwa penembakan dan pembakaran kendaraan di Kab. Aceh Timur dan Kab. Pidie, Prov. Aceh, hanya sebagian kecil tindakan kekerasan selama Pilkada di Aceh. Direktur Perludem, Titi Anggraini menyebutkan kekerasan di Aceh yang menggelar 21 Pilkada pada tahun 2017 sebanyak 26 kasus, dimana kekerasan di Aceh Timur sebanyak 30%, Aceh Utara 18%n dan Pidie 19% (Novi Setuningsih, Suara Pembaharuan: 9 Februari 2017). Kekerasan dalam Pilkada tahun 2017 memang menurun dibandingkan Pilkada tahun 2012 sebanyak 167 kasus kekerasan dan 2015 sebanyak 57 kasus kekerasan, namun perilaku atau tindakan kekerasan yang menjadi kultur di Aceh sangat memprihatinkan karena tradisi barbaristik justru muncul dalam kehidupan politik Aceh yang Darussalam. Tradisi kekerasan, penembakan dan pembakaran yang mewarnai kehidupan politik Aceh, memunculkan stereotif  tradisi barbaristik dalam Pilkada Aceh.

Istilah “Barbar” seringkali dikaitkan dengan sekumpulan orang atau suku yang hidup secara primitif dan belum mengenal peradaban (hidup di masa dahulu), dimana kultur kelompok orang atau suku diwarnai dengan kekerasan, sadisme, kekejaman, kebodohan, pelanggaran terhadap norma, keterbelakangan, dan segala tindakan negatif yang bisa dilakukan oleh manusia. Para ilmuwan mendefinisikan “Barbar” sebagai penduduk asli yang mendiami wilayah Afrika Utara di sebelah barat lembah sungai Nil, tersebar dari pantai Atlantik di barat sampai oase Siwa (Mesir) di timur, serta dari pantai Mediterania di utara sampai sungai Niger di selatan. Di masa sekarang, mayoritas orang Barbar adalah penduduk Maroko, Aljazair, Libya, dan Tunisia. Sebagian kecil ada yang menjadi penduduk Mesir, Mali, Mauritania, Burkina Faso, dan Nigeria. Sejarah mencatat terdapat beberapa sebutan lain untuk Barbar. Orang Mesir menyebut mereka Meshwesh. Orang Yunani kuno menyebut mereka Libyans. Orang Romawi menyebut mereka Numidians dan Mauri. Orang Eropa abad Pertengahan menyebut mereka Moors.

Perilaku kekerasan seperti penembakan dan pembakaran dalam pilkada Aceh secara psikologis dikenal sebagai perilaku agresif. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, agresif berarti cenderung (ingin) menyerang kepada sesuatu yang dipandang sebagai hal yang mengecewakan, menghalangi atau menghambat. Kasus perusakan, pembakaran dan penembakan dalam Pilkada Aceh merupakan perilaku violence (kekerasan) secara fisik, bukan verbal (bullying). Pengalaman sejarah masa lalu, dimana Aceh menjadi daerah yang penuh pemberontakan dan menjadi daerah operasi militer (DOM), secara sosial akan membentuk perilaku agresif berupa kekerasan (violence). Sebelum tahun 1998, Aceh  menjadi daerah peperangan dan daerah operasi militer. Hasan Muhammad di Tiro yang memproklamirkan Aceh Merdeka di pegunungan Halimon, Pidie, pada 4 Desember 1976 direspon Pemerintah dengan Operasi Jaring Merah yaitu Daerah Operasi Militer Aceh (1989-1998).

Kondisi perang di Aceh tentunya memicu perilaku violence masyarakat. Dalam pandangan ethologi, setiap orang memiliki insting untuk berkelahi dalam mempertahankan hidup dari ancaman spesies lain, sehingga seseorang akan berbangun perilaku kekerasaan terhadap orang lain yang dianggap menjadi musuh atau yang mengancam dirinya.

Setelah tahun 1998, dimana pada 7 Agustus 1998 Panglima ABRI Jendral TNI Wiranto mengumumkan pencabutan status daerah operasi militer di Aceh menandai berakhirnya peperangan di Aceh. Namun demikian, perilaku kekerasan tidak serta merta hilang dalam peradaban masyarakat di Aceh. Mantan kombatan (yang dikenal dengan eks-GAM) yang ber-reinkarnasi menjadi Komisi Peralihan Aceh (KPA) ataupun Partai Aceh pasca 2005 dan menyebar menjadi pendukung partai lain tidak serta merta dapat merubah perilaku kekerasan yang sudah terbentuk. Terbukti sejak Pilkada 2006, Pilkada 2012, Pilkada 2015 dan Pilkada 2017 tradisi kekerasan masih muncul di Aceh. Persebaran para kombatan dalam mendukung partai politik di Aceh, dituding sebagai pelaku kekerasan dalam Pilkada.

Dorongan perilaku kekerasan masyarakat dalam Pilkada Aceh terlihat ada pergeseran. Dalam Pilkada 2006 dan 2012 masih kuatnya dikotomi Pusat dan Daerah, sehingga insting kekerasan untuk mempertahankan kelompok terhadap dominasi Pemerintah masih kuat. Kekerasan politik masih didominasi Partai Aceh yang didukung banyak kombatan eks-GAM dan direstui oleh masyarakat Aceh. Namun, dalam Pilkada 2015 dan Pilkada 2017, tradisi kekerasan sudah beralih karena adanya dorongan atau keinginan berkuasa. Keinginan berkuasa, juga dapat memicu budaya kekerasan atau barbaristik. Sebagai contoh, Temujin (yang kemudian dikenal sebagai Genghis Khan) pernah bersumpah di masa mudanya untuk membawa dunia di kakinya, sehingga ketika menjadi Pemimpin Mongol (1206), dia membentuk pasukan berkuda yang sangat displin, Anak panah yang mampu merobek baju perang untuk menaklukan wilayah lain. Menurut ahli sejarah R.J. Rummel, diperkirakan sekitar 30 juta orang terbunuh dibawah pemerintahan Kekaisaran Mongolia dan sekitar setengah jumlah populasi Tiongkok habis dalam 50 tahun pemerintahan Mongolia.

Pilkada merupakan proses demokrasi untuk mendudukan pemimpin yang bijak, sehingga harus dilakukan secara bijak tanpa kekerasan. Masa depan Aceh yang modern dan Darussalam, membutuhkan Pemimpin yang dipilih dengan cara yang elegan, sehingga terpilih Pimpin yang demokratis dan amanah.

 

Oleh : Pardiyanto (Pemerhati  Masalah sosial dan Perilaku.Alumnus: Pasca Sarjana Universitas Indonesia)


Oleh : Pardiyanto/aga | 07 April 2017 | Dibaca : 2617 Pengunjung


TAGS : Nusantara




Berita Terkait :

Nusantara, 21 November 2017 20:01
Registrasi Sim Card Untuk Cegah Kejahatan Siber
Opini, suaradewata.com -Seperti yang sudah diketahui, pemerintah telah mewajibkan seluruh penggun ...
Nusantara, 21 November 2017 20:00
Perppu Ormas Selamatkan Pancasila
Opini, suaradewata.com - Indonesia merupakan Negara yang terdiri dari ribuan pulau yang di dalamn ...
Nusantara, 20 November 2017 23:27
Papua Adalah Bagaian Teritori Indonesia
Opini, suaradewata.com - Semenjak era pemerintahan Suharto, provinsi Papua yang waktu itu bernama ...
Nusantara, 20 November 2017 23:25
Pembangunan di Papua Sebagai Realisasi Nyata Nawacita
Opini, suaradewata.com - Papua sebagai provinsi paling timur di Indonesia memiliki banyak keunika ...
Nusantara, 19 November 2017 18:16
Mengukir Harapan Baru: Upaya Serius Pemerintah Dalam Membangun Papua
Opini, suaradewata.com - Harapan masyarakat Papua untuk menjadi lebih baik, lebih bermartabat, da ...
Nusantara, 19 November 2017 18:15
Membangun Tanah Papua Ala Jokowi
Opini, suaradewata.com - Tanah Papua selama ini kurang mendapat perhatian lebih dari pe ...
Nusantara, 18 November 2017 08:49
Dukung Undang-Undang Ormas Sebagai Alat Pelindung Pancasila
Opini, suaradewata.com - Sejak disahkannya Perppu No. 2 tahun 2017 tentang Organisasi M ...
Nusantara, 18 November 2017 08:47
Bijak Menyikapi Pembangunan di Era Presiden Jokowi
Opini, suaradewata.com - Negara kurang ini, negara kurang itu. Banyak hal yang menjadi tuntutan k ...
Nusantara, 16 November 2017 20:47
Indonesia Negeri Toleran
Opini, suaradewata.com - Toleransi berdasarkan kajian kata berasal dari bahasa latin “toler ...
Nusantara, 16 November 2017 20:45
Pemerintah Terbuka Dalam Revisi UU Ormas
Opini, suaradewata.com - Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang ...


Berita Lainnya :

Gianyar, 24 November 2017 08:23
Anggaran Pakaian Setengah Miliar Jadi Perhatian Dewan
Gianyar, suaradewata.com – Tahun 2018 mendatang pemerintah kabupaten Gianyar akan meng ...
Gianyar, 24 November 2017 08:02
Jalan Alternatif Dua Kecamatan di Gianyar Jebol
Gianyar, suaradewata.com - Jalan pintas menghubungkan dua kecamatan, Tampaksiring dan Tegallalang ...
Bangli, 24 November 2017 08:00
Launching Buku “Merdeka Seratus Persen”, Bupati Dukung Kapten Mudita Jadi Pahlawan Nasional
Bangli, suaradewata.com - Perjuangan sosok Pahlawan Kapten TNI. Anak Agung Gde Anom Mud ...
Karangasem, 24 November 2017 07:55
Korpri Karangasem dan Polda Bali Gelar Baksos dan Bersih-bersih Pantai
Karangasem, suaradewata.com - Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Korps Pegaw ...
Denpasar, 23 November 2017 21:58
Semangat IWO Membangun Peradaban dan Menjaga Netralitas
Denpasar, suaradewata.com– Dengan perkembangan teknologi informasi (TI) yang semakin cepat ...
Tabanan, 23 November 2017 10:30
Penyenderan Sawah di Jatiluwih, Subak Harapkan Tidak Ada Alih Fungsi Lahan
Tabanan, suaradewata.com - Penyenderan yang terjadi di persawahan tepatnya di Dusun Gunung Sari D ...
Denpasar, 23 November 2017 00:18
Jaga Katahanan Nasional, Ras Amanda Tekankan Jurnalisme Damai
Denpasar, suaradewata.com – Dr. Ni Made Ras Amanda G. Kaprodi Ilmu Komunikasi Universitas U ...
Denpasar, 22 November 2017 12:17
Jaga Netralitas Media Ditahun Politik, IWO Gelar Diskusi Kebangsaan
Denpasar, suaradewata.com– Pesatnya perkembangan media online dewasa ini tentu saja berdamp ...
Karangasem, 21 November 2017 23:30
Gunung Agung Meletus, KRB III dan II Dilanda Hujan Abu
Karangasem, suaradewata.com - Letusan Freatik terjadi di Gunung Agung, Selasa (21/11/2017) sekita ...
Denpasar, 21 November 2017 23:20
Seluruh Pegawai Pengadilan Tinggi Bali Lakukan Tes Urine
Denpasar, suaradewata.com - Pengadilan Tinggi Bali bekerja sama dengan BNNK Gianyar dan Pemd ...

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 

Facebook

Twitter