Komunisme: Antara Ilusi dan Realita

Oleh : Herlambang Pratama/aga | 20 Maret 2017 | Dibaca : 2502 Pengunjung

Komunisme: Antara Ilusi dan Realita

sumber foto :google

Opini, suaradewata.com - Sejarah mencatat, PKI pernah memberontak tahun 1948, menjadi pemenang keempat dengan lebih dari 6 juta suara pada Pemilu 1955, hingga terlibat dalam krisis politik dan tragedi kemanusiaan tahun 1965 yang mengakhiri sepak terjang PKI di Indonesia.Di dunia, Vladimir Ulyich Lenin menggulingkan kekaisaran Rusia danmendirikan Uni Sovyet setelah memenangkan revolusi Bolshevik 1917.  Sementara di China, Mao Tze Tung mendirikan RRC tahun 1949 setelah mengalahkan faksi nasionalis Kuomintang, Chiang Kai Shek dan berkuasa di negara dengan penduduk 1,2 milyar hingga saat ini.  Di Korea Utara, komunisme ditransformasikan dengan ajaran Juche oleh Kim Il Sung, Vietnam setelah bersatunya Vietnam Utara dan Selatan dibawah kepemimpinan Ho Chi Minh, serta Kuba setelah Fidel Castro menggulingkan Fulgencio Batista.

Era runtuhnya Komunisme Eropa dimulai dengan jatuhnya tembok Berlin tahun 1989 dan reunifikasi Jerman Barat yang liberal dan Jerman Timur yang komunis.  Glasnost dan Perestroika meruntuhkan Uni Sovyet pada akhir 1991dan menjadi pukulan telak bagi rezim komunis di Eropa Timur.Secara global komunisme mengalami kebangkrutan, namun bukan berarti telah habis sama sekali, pemerintahan komunis masih eksis di Korea Utara, RCC dan Kuba.  Memang ada yang menilai bahwa komunisme di negara-negara tersebut telah menyimpang dari doktrin komunisme, namun tidak dapat dipungkiri ada karakteristik yang sama yakni pemerintahan totaliter yang didirikan melalui revolusi sosial, sistem partai tunggal, anti demokrasi dan represi terhadap kebebasan.

Sejarah rezim komunis di berbagai dunia tidak lepas dari revolusi dan tragedi kemanusiaan.Semua pemerintahan komunis pasti totaliter sebagai wujud dari diktator proletariat dengan kekuasaan monopolistik dan represif.Penggunaan kekerasan menjadi “halal” karena doktrin revolusi sosial secara substansi menekankan perebutan paksa faktor produksi sebagai sumber kekuatan yang harus diambil alih oleh kelas pekerja/proletar dari tangan pemilik modal.  Kaum komunis juga meyakini bahwa negara tidak lain adalah sarana menindas yang hanya membela kepentingan orang kaya pemilik modal.  Karena itu, kelas sosial harus dihancurkan dengan cara merebut kekuasaan dari pemilik modal menuju masyarakat tanpa kelas.  Seperangkat doktrin komunisme inilah yang membuat ideologi dan praktek politik komunisme menjadi “momok” menakutkan di dunia, termasuk di Indonesia.

 

Laten ke Manifest?

Orde Baru memiliki instrumenefektif untuk mewaspadai bahaya laten komunis melalui propaganda, litsus, screening politik maupun pendidikan.  Orde Selain Tap MPRS XXV tahun 1966 tentang Pembubaran PKI dan larangan penyebaran paham Marxisme Leninisme/Maoisme/Komunisme, Orde Baru juga menerapkan azas tunggal Pancasila.Bahkan, kebijakan kependudukan juga mencantumkan atribut eks Tapol/Napol yang biasanya dilekatkan pada eks simpatisan, anggota, dan underbouw PKI.Berbagai retriksi itu dicabut setelah reformasi, kecuali tentang pembubaran PKI dan larangan ajaran komunisme dalam Tap MPRS XXV/1966.  Aktivis atau keturunan PKI telah dipulihkan hak-hak sipil politiknya dan sejajar dengan warga negara lain.  Banyak diantara mereka telah memasuki berbagai sektor kehidupan politik, semisal Ribka Tjiptaning yang menggemborkan kebanggaannya sebagai anak PKI yang kini menduduki kursi di DPR RI dari PDI-P.

Harus diakui bahwa isu komunisme dan PKI sangat sensitif sehingga rawan untuk dimanipulasi demi kepentingan politik tertentu karena menyangkut luka sejarah.  Pada April 2016 digelar Simposium Tragedi 1965 yang memancing kecurigaan bahwa negara sedang diarahkan untuk meminta maaf dan pengakuan pada PKI, serta menegasikan fakta bahwa PKI terlibat pemberontakan dan aksi-aksi sepihak yang memicu korban kemanusiaan.  Hal ini memicu reaksi dengan digelarnya Simposium untuk mengamankan Pancasila dari ancaman PKI dan ideologi lain pada Juni 2016.  Para pengusung Simposium anti PKI menghendaki rekonsiliasi kemanusiaan yang telah berlangsung secara alamiah ini tidak diganggu.Tragedi kemanusiaan akibat konflik ideologis itu adalah aksi-reaksi yang menimbulkan korban diantara kedua belah pihak yang patut disesalkan.Opini seolah PKI adalah korban sepihak dianggap tidak fair dan menyesatkan fakta sejarah.Karena itu, mereka mendorong agar pemerintahkonsisten memastikan bahwa PKI dan ajarannya dilarang di Indonesia.

Momentum Pilpres 2014 lalu juga diramaikan dengan isu bangkitnya komunis setelah marak propaganda simbol komunisdan kader PKI yang hendak kembali ke panggung politik.Celakanya, banyak aktivis politik yang secara terang-terangan bersikap permisif terhadap propaganda komunis.Mereka menuding kekhawatiran akan komunisme sebagai old fashion, phobia, paranoid dan pro Orba.  Sungguh kontras dengan pandangan kritis yang mereka gunakan untuk merespon isu radikalisme Islam yang justru tidak nampak dalam menyikapi isu bahaya laten komunis. 

Suasana serupa juga berlangsung dalam momentum Pilkada serentak 2017.Media sosial ramai dengan munculnya akun-akun komunis dan simpatisannya.Simbol Palu-Arit khas PKI ditemukan pada kaos, buku, dinding rumah, bendera, selebaran, serta rumor bangkitnya PKI masif mengisi ruang publik.Di Pamekasan, Madura ditemukan aksi grafiti Palu-Arit di fasilitas publik termasuk Mushola.  Di Banten, PDIP yang menjagokan Rano-Embay dalam Pilgub 2017 diterpa isu santer sebagai tempat persembunyian kader PKI.  Alfian Tanjung, aktifis gerakan Islam bahkan menuding Istana sebagai tempat rapat-rapat para simpatisan dan kader komunis.  Di Kampar, Riau, sepasang suami istri ditangkap karena menggunakan kaos dengan gambar masjid yang dihiasi oleh lambang Palu-Arit.  Buku kisi-kisi UN SMA bergambarPalu-Arit ditemukan di Ciamis, hingga munculnya tudingan aktifis FPI, Habib Rizieq tentang logo BI yang diidentikan dengan Palu-Arit simbol PKI.

Keresahan ini diperburuk dengan berbagai rumor tentang implikasi yang dapat ditimbulkan akibat kedekatan hubungan ekonomi antara Indonesia dengan RRC yang menganut komunisme, serta komunikasi yang intens antara partai-partai politik di Indonesia dengan Partai Komunis China (PKC).Seperti diketahui publik, bahwa sejumlah partai besar di Indonesia, seperti PDIP, Golkar, Demokrat, Nasdem, PKS telah menjalin komunikasi intens dengan PKC.Para elit politik seharusnya sensitif terhadap psikologis masyarakat dan memahami munculnya kekhawatiran akan bangkitnya PKI.  Ada fakta sejarah politik Indonesia yang melekatkan PKI dengan RRC, sehingga dapat dimengerti jika ada keresahan sebagian masyarakat akankemesraan Indonesia dengan RRC dapat mengulang sejarah lampau dan dimanfaatkan simpatisan PKI untuk bermetamorfosa dari kekuatan laten menjadi kekuatan manifest dalam politik Indonesia.

 

Meningkatkan Kewaspadaan

Masifnya propaganda simbol komunis ini memang harus dicermati secara kritis.Era kebebasan dan demokrasi membuka peluang bagi semua bentuk ideologi politik untuk eksis ke permukaan, baik ekstrim kiri maupun ekstrim kanan.Karena itu, masyarakat tidak boleh bersikap permisif terhadap ideologi-ideologi ekstrim yang anti Pancasila.Sikap kritis sangat penting terhadap simbol dan propaganda komunis, baik melalui media sosial maupun propaganda terbuka.  Sikap kritis ini termasuk untuk memilah apakah propaganda itu Hoax yang ditebar kelompok yang tidak bertanggungjawab untuk memicu keresahan masyarakat dengan memanfaatkan psikologis histeria massa yang traumatik terhadap aksi PKI di masa lalu atau memang mengindikasikan munculnya kembali kekuatan komunis di Indonesia.

Kewaspadaan serta sinergi antara kelompok masyarakat, pemerintah dan segenap komponen bangsa menjadi sangat penting.Pemerintah memiliki tanggungjawab untuk menciptakan keamanan, ketertiban dan harmoni dalam masyarakat yang telah terbangun dengan baik.Setiap isu dan manuver yang justru kontraproduktif terhadap upaya membangun bangsa dan negara harus diantisipasi sejak dini, baik melalui pendekatan politik persuasif maupun penegakan hukum secara efektif.  Perlu dipahami, bahwa komunisme sebagai ideologi politik akan tetap memiliki ruang untuk berkembang dalam kerangka pemikiran dan sulit untuk dibelenggu.  Namun, komunisme sebagai gerakan politik dapat dicegah dengan menutup ruang gerak dan kondisi objektif yang dapat menjadi momentum bagi propaganda politik kelompok komunis.

Upaya menutup ruang gerak artikulasi politik ideologi komunis tentu harus melalui upaya membangkitkan kesadaran akan bahaya laten komunis.  Komunisme sama halnya dengan radikalismedan terorisme yang antiPancasila dan musuh rakyat.  Bagi mereka yang memberikan simpati dan berdalih atas nama demokrasi maupun HAM bagi kekuatan komunis, harus paham bahwa di Indonesia masih berlaku TAP MPRS XXV/1966, Pancasila telah disepakati sebagai Dasar Negara yang final, karena itu menjadi kewajiban pemerintah, masyarakat dan seluruh elit politik untuk memastikan tidak ada ruang bagi ideologi yang anti Pancasila tumbuh berkembang di Indonesia. 

Kondisi objektif yang seringkali dieksploitasi sebagai alat propaganda komunis seperti isu ketimpangan ekonomi, kemiskinan, ketidakadilan, menjadi pekerjaan rumah pemerintah dengan didukung oleh segenap kekuatan politik di Indonesia untuk dapat ditangani dengan baik.Para politisi dan elite politik memiliki tugas ideologis untuk mendorong agar pemerintah dapat bekerja secara efektif melaksanakan pembangunan di berbagai bidang secara merata dan maksimal demi kesejahteraan masyarakat.  Dengan sinergi yang kuat ini, niscaya bahaya laten komunis dan PKI dapat kita antisipasi dan hadapi bersama, mencegah sesuatu yang dianggap ilusi menjadi realita.

 

Oleh :Herlambang Pratama (Pemerhati sosial politik diJakarta)


Oleh : Herlambang Pratama/aga | 20 Maret 2017 | Dibaca : 2502 Pengunjung


TAGS : Nusantara




Berita Terkait :

Tabanan, 23 Mei 2017 14:36
Bupati Eka Dinobatkan Jadi Tokoh Pengembang Program Pertanian
Tabanan, suaradewata.com - Untuk kedua kalinya dalam bulan ini, Bupati Tabanan Ni Putu Eka W ...
Nusantara, 18 Mei 2017 11:14
Urgensi Revitalisai Pemahaman Empat Pilar Kebangsaan Terhadap Ancaman Proxy War
Opini, suaradewata.com - Panglima TNI Jendral TNI Gatot Nurmantyo dalam suatu kesempatan menyatak ...
Nusantara, 15 Mei 2017 20:21
Urgensi Pembubaran HTI dan FPI?
Opini, suaradewata.com - Kiprah FPI kontroversialdengan aksi-aksi sweeping yangberdalih penertiba ...
Nusantara, 15 Mei 2017 20:19
Taati Undang-Undang Saat Berunjuk Rasa
Opini, suaradewata.com  - Kebutuhan warga negara untuk menyampaikan pendapat di muka umum te ...
Nusantara, 14 Mei 2017 14:54
Ideologi Transnasional Versus Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Opini, suaradewata.com - Catatan sejarah bangsa Indonesia menorehkan sejumlah peristiwa konflik t ...
Nusantara, 14 Mei 2017 14:52
Gerakan Nasional Mencegah Terorisme
Opini, suaradewata.com - Terorisme adalah kejahatan luar biasa yang perlu ditangani dengan serius ...
Nusantara, 12 Mei 2017 20:13
Suksesnya Pilkada 2017 dan Kebanggaan Nasional
Opini, suaradewata.com - Pada umumnya, Sikon pasca pelaksanaan Pilkada Serentak 2017 di 101 daera ...
Nusantara, 12 Mei 2017 20:12
Pilkada Usai, Jakarta Tetap Damai
Opini, suaradewata.com - Pelaksanaan tahapan putaran kedua DKI Jakarta tanggal 19 April 2017 tela ...
Nusantara, 12 Mei 2017 12:43
Menumbuhkan Kesadaran Beragama Memperkokoh Kesadaran Bernegara
Opini, suaradewata.com - Kesadaran bernegara adalah hal yang sangat penting bagi setiap individu ...
Nusantara, 11 Mei 2017 23:07
Nilai Agama, Pancasila dan Kemajemukan Bangsa
Opini, suaradewata.com - Kita lahir di desa bahkan negara yang majemuk dengan beraneka ragam agam ...


Berita Lainnya :

Nusantara, 24 Mei 2017 23:47
Wakapolri : Ledakan Kampung Melayu Berasal Dari Bom
Jakarta, suaradewata.com - Ledakan di Terminal Kampung Melayu dipastikan berasal dari bom. L ...
Nusantara, 24 Mei 2017 23:44
Tim Gegana Tiba di Lokasi Ledakan Kampung Melayu
Jakarta, suaradewata.com - Polda Metro Jaya menurunkan anjing pelacak ke lokasi kejadian led ...
Nusantara, 24 Mei 2017 23:31
Kapolda Metro Jaya Turun Langsung ke Lokasi Ledakan Kampung Melayu
Jakarta, suaradewata.com - Peristiwa ledakan yang terjadi di Terminal Kampung Melayu, Jakart ...
Nusantara, 24 Mei 2017 23:25
Ledakan di Terminal Trans Jakarta Kampung Melayu
Jakarta, suaradewata.com - Ledakan terdengar keras di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Belum d ...
Klungkung, 24 Mei 2017 20:12
Bupati Suwirta Terima Kementrian PUPera
Klungkung, suaradewata.com - Bupati Suwirta Terima Kunjungan Study Banding Kementrian Pekerja Umu ...
Denpasar, 24 Mei 2017 19:00
Targetkan Satpam Tak Bersertifikasi, Polisi Temukan Ekstasi
Denpasar, suaradewata.com – Polda Bali mengobok-obok tempat hiburan malam Akasaka dan ...
Tabanan, 24 Mei 2017 18:59
Polsek Marga Sisir Tempat Percetakan Batu Bata
Tabanan, suaradewata.com - Guna antisipasi bahan peledak masuk wilayah Kecamatan Marga. ...
Klungkung, 24 Mei 2017 14:41
Dua Toko Perhiasan Dibobol Maling
Klungkung, suaradewata.com - Dua toko perhiasan yang berada di Blok A lantai II Pasar Seni Semara ...
Tabanan, 24 Mei 2017 14:05
Gara Gara Kunci Nyantol, Vario Raib
Tabanan, suaradewata.com - Gara-gara kunci masih nyantol, sebuah sepeda motor Honda Var ...
Tabanan, 24 Mei 2017 12:43
Sidak Duktang, Polsek Kediri Obok Obok Kos Kosan, 1 Tanpa KTP
Tabanan, suaradewata.com - Demi terciptanya situasi aman dan kondusif di wilayah Kecama ...

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 

Facebook

Twitter