Nilai-nilai Kebhinekaan Dalam Multikulturalisme dan Ancamannya

Oleh : Imam S | 06 Januari 2017 | Dibaca : 4794 Pengunjung

Nilai-nilai Kebhinekaan Dalam Multikulturalisme dan Ancamannya

sumber foto :istimewa

Opini, suaradewata.com - Indonesia dengan berbagai suku, agama, ras sudah sejak dahulu saling menghormati dan hal itu terbukti dengan lahirnya Sumpah Pemuda, sementara saat ini bangsa Indonesia sedang diuji kedewasaan dan keragamannya, dengan maraknya kasus intoleran, penistaan agama dan berbagai kasus SARA yang selalu terjadi, padahal di era tahun 70-an sampai tahun 80 an jarang terjadi, mungkin disebabkan karena Orba waktu itu berkuasa sangat kuat dengan menihilkan nilai-nilai demokrasi dan penghormatan terhadap HAM.

Harus diingat bahwa Indonesia adalah negara demokrasi terbesar dan jauh melebihi Amerika dalam demokrasi, dimana pemilihan langsung dapat kita amati dari tingkat paling bawah RT, RW, dukuh, kepala desa, hingga Presiden. Walaupun banyak yang menilai bahwa demokrasi di Indonesia masih sebatas pada prosedural dan belum substansial, apa yang dilaksanakan tidak berdampak positif secara signifikan meskipun ada beberapa wilayah cukup maju.

Sedangkan, permasalahan lainnya yang menjadi ancaman bagi kebhinekaan kita adalah rumors adanya fenomena bangkitnya eks PKI. Bagi kelompok pro komunis atau paham kiri selalu mempunyai alibi bahwa masyarakat banyak salah menafsirkan bahwa gerakan kiri itu identik dengan PKI, padahal saat ini partainya saja sudah tidak ada. Partai kiri di awal kemerdekaan itu diartikan sebagai partai yang menolak kapitalisme atau yang menolak kemapanan.

Salah satu partai yang sering dilupakan adalah Partai Murba dengan tokohnya yaitu Tan Malaka yang pernah menjadi tokoh sentral gerakan kiri di Asia. Peristiwa tahun 1965 memang banyak versi namun kebanyakan versi tersebut baru muncul setelah keruntuhan Orde Baru. Beberapa tokoh yang berperan dalam peristiwa 1965 antara lain yaitu almarhum Sarwo Edi Wibowo yang melakukan kegiatan pemberantasan terhadap gerakan kiri atau PKI. Kemudian pasca peristiwa Madiun juga muncul kembali pemberontakan gerakan kiri yang sebenarnya merupakan persaingan antar gerakan kiri.

Persaingan itu antara kelompok gerakan kiri yang dipimpin oleh Tan Malaka, Amir Syarifudin dan Muso. Jadi gerakan kiri itu sebenarnya tidak pernah hilang karena pada suatu waktu bisa saja gerakan kiri itu muncul kembali. Bahkan sampai sekarang pandangan-pandangan kiri akan tetap berjalan dengan meletakkan pada dasar Marxisme yang sering menjelma menjadi sosialis demokrat. Misalnya saja pada waktu penyelenggaraan acara belok kiri fest yang kemudian dibubarkan oleh massa. Secara teoritis, gerakan kiri atau komunis itu menolak adanya modal asing sehingga musuhnya adalah kapitalisme.

 

Melunturnya Nilai Kebhinekaan

Salah satu perekat nasionalisme adalah nilai kebhinekaan kita. Sayangnya, Bhineka Tunggal Ika yang diagungkan dan digaungkan sejak dulu oleh pendiri bangsa mulai tidak dipahami dan hanya sebatas diucapkan. Kebhinekaan adalah sumber persatuan bangsa Indonesia, dan Pancasila adalah landasan dasar yang sebenarnya telah mengajarkan semuanya, namun lagi-lagi saat ini Pancasila sudah dianggap usang dan tidak diperlukan.

Orang menyanyikan Indonesia Raya atau membaca teks Pancasila sudah tidak bergetar seperti saat jaman kemerdekaan, padahal jaman kemerdekaan menyanyikan harus sembunyi-sembunyi, dan sekarang ini diakui atau tidak diakui generasi muda Indonesia tidak ada respons baik dengan lagu kebangsaannya. Inilah tanda-tanda melunturnya nilai kebhinekaan.

Hal lain dalam melemahnya kebhinekaan dan keberagaman adalah lemahnya penegakkan hukum, banyak kasus SARA yang mengancam kebhinekaan tidak diselesaikan secara tuntas hingga akarnya, akibatnya muncul kembali di lain waktu.

Kondisi tersebut diperparah dengan pendidikan Pancasila saat ini sangat minim, bahkan banyak pelajar dan mahasiswa yang tidak hafal, bagaimana mau merawat kebhinekaan jika landasan dasar dan ruh kebhinekaan saja tidak hapal dan tidak paham. Selain itu, kebhinekaan yang ada di Indonesia sudah takdir dan bagaimana kita merawatnya karena tidak akan mungkin dilakukan penyeragaman ini yang masih banyak belum dipahami oleh para pemimpin kita.

Indonesia sebagai contoh keberagaman sudah mulai dipertanyakan karena muncul berbagai kasus yang berpotensi kekerasan baik SARA ataupun yang lain, seperti geng pelajar yang memakan korban menunjukkan adanya gejala-gejala intoleransi dan mengoyak keberagaman.

Ada beberapa upaya yang perlu dilakukan agar nilai kebhinekaan dan multikulturalisme di Indonesia tidak memburuk yaitu : pertama, perlunya literasi media khususnya bagaimana menggunakan media sosial secara bijaksana. Bagaimanapun juga, media sosial yang berkembang pesat menjadikan apapun dapat tersebar masuk langsung ke privat masyarakat, jika tanpa ada filter, kroscek dan literasi Medsos yang berkesinambungan ke masyarakat, maka yang terjadi adalah saling klaim kebenaran ataupun kesalahan.

Kedua, saat ini pentingnya mengembalikan pendidikan moral baik dalam informal dan formal, karena keberagamaan, toleransi dan saling menghormati dapat tumbuh diawali dari pendidikan terbawah informal yaitu keluarga.

Ketiga, mahasiswa sebagai agen perubahan harus ikut memikirkan kondisi nasional, jika tidak maka bersiaplah menjadi mahasiswa korban industrial pendidikan yang tidak mampu mengimplementasikan dharma pendidikan, padahal pendidikan adalah membebaskan bukan sekedar mencerdaskan. Faktor kunci membebaskan itulah yang dapat membuat nilai kebhinekaan dan multikulturalisme kita semakin dinamis dan elastis.

 

*) Penulis adalah pemerhati masalah perkembangan sosial budaya


Oleh : Imam S | 06 Januari 2017 | Dibaca : 4794 Pengunjung


TAGS : opini bhinneka tunggal ika SARA luntur




Berita Terkait :

Denpasar, 23 Juni 2017 12:34
Menjamin Kebhinekaan Dalam Pilkada Serentak
Abstarak   Imanuel Kant berpendapat bahwa manusia adalah suka berteman, manun juga s ...
Nusantara, 22 Februari 2017 17:14
Waspada Kepentingan Aksi-Aksi Mengatasanamakan Agama
Opini, suaradewata.com - Tak terasa sebentar lagi pesta demokrasi secara serentak diselengga ...
Nusantara, 19 Februari 2017 19:46
Menjaga Eksistensi Kerukunan Bangsa Indonesia
Opini, suaradewata.com - Mantan Bupati Belitung Timur Basuki Tjhaya Purnama atau yang akrab disap ...
Nusantara, 19 Februari 2017 19:40
Pilkada 2017, Pesta Rakyat atau Politisi
Opini, suaradewata.com - Hajatan demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara serentak kedu ...
Nusantara, 18 Februari 2017 23:21
Melawan Daya Tarik ISIS
Opini, suaradewata.com - Pertengahan tahun 2015 publik di Indonesia dikejutkan dengan  Dwi D ...
Nusantara, 18 Februari 2017 23:12
Apa Sih Pemilukada Sehat?
Opini, suaradewata.com - Sebentar lagi pesta demokrasi secara serentak diselenggarakan hampir dis ...
Nusantara, 12 Januari 2017 09:56
Pernyataan Sikap BEM NUSANTARA
Opini, suaradewata.com - Kebijakan Presiden melalui PP Nomor 60 tahun 2016 sedang menjadi topik h ...
Nusantara, 09 Januari 2017 20:16
Isu Tenaga Kerja Asing Hingga ke Konflik SARA
Opini, suaradewata.com - Isu masuknya Tenaga Kerja Asing (TKA) Ilegal ke Indonesia semakin hangat ...
Nusantara, 09 Januari 2017 20:06
Jangan Percayai Isu Serbuan Tenaga Asing
Opini, suaradewata.com - Beberapa hari belakangan, isu serbuan tenaga asing khususnya asal C ...
Nusantara, 06 Januari 2017 12:56
Nilai-nilai Kebhinekaan Dalam Multikulturalisme dan Ancamannya
Opini, suaradewata.com - Indonesia dengan berbagai suku, agama, ras sudah sejak dahulu salin ...


Berita Lainnya :

Tabanan, 20 September 2017 15:59
Eksekutif dan Legislatif Kabupaten Tabanan Sepakati 6 Buah Ranperda Menjadi Perda
Tabanan, suaradewata.com - Eksekutif dan Legislatif Kabupaten Tabanan sepakat menetapkan 6 ( ...
Gianyar, 20 September 2017 15:38
Wabup Mahayastra Meletakkan Batu Pertama Pembangunan Balai Banjar Gambih
Gianyar, suaradewata.com - Wakil Bupati Gianyar I Made ‘Agus’ Mahayastra me ...
Gianyar, 20 September 2017 14:47
Sweeping Apotik, Cegah Peredaran Tablet PCC
Gianyar, suaradewata.com - Satuan Res Narkoba Polres Gianyar bersama Dinas Kesehatan Kabupat ...
Karangasem, 20 September 2017 14:44
Kepala BNPB Pantau Pos Pengamatan Gunung Agung
Karangasem, suaradewata.com - Meningkatnya status Gunung Agung ke level III (siaga), Kepala ...
Tabanan, 20 September 2017 12:24
Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Baturiti Dilantik
Tabanan, suaradewata.com - Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Tabanan Nyonya Rai Wahyuni Sanjaya s ...
Tabanan, 20 September 2017 00:25
Jelang Pilgub, Staf KPU Dibintek Kearsipan Elektronik
Tabanan, suaradewata.com- Sosialisasi Elektronik sistem kearsipan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ta ...
Tabanan, 20 September 2017 00:01
Pendaftaran Panwascam Dibuka 23 September 2017
Tabanan, suaradewata.com- Panitia pengawas pemilihan umum ( Panwaslu ) Kabupaten Tabanan membuka ...
Karangasem, 19 September 2017 23:45
Citra Satelit Himawari Temukan Titik Panas Dikawah Gunung Agung
‎Karangasem, suaradewata.com - Status Gunung Agung kini sudah dinaikkan kelevel III. Pihak Ba ...
Denpasar, 19 September 2017 23:43
Gus Adhi Berkomitmen Perjuangkan Kesejahteraan Petani
Denpasar, suaradewata.com - Anggota Komisi IV DPR RI AA Bagus Adhi Mahendra Putra kembali menggel ...
Nusantara, 19 September 2017 22:33
Ada Kepastian Harga, DPR Dukung Kebijakan HET Beras
Jakarta, suaradewata.com — Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, menyatakan dukungann ...

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 

Facebook

Twitter