Implementasi IoT untuk Pertanian Presisi di Kelompok Tani Bumi Amerta Tabanan
Rabu, 26 November 2025
19:00 WITA
Tabanan
2931 Pengunjung
Implementasi IoT untuk Pertanian Presisi di Kelompok Tani Bumi Amerta" di Dusun Jagatamu, Meliling, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, tempat Kelompok Tani Bumi Amerta menjadi mitra penelitian dan uji coba teknologi, 26 Nopember 2025.
Tabanan, suaradewata.com - Sektor pertanian di Bali, khususnya dalam budidaya padi, kini memasuki era digital berkat inovasi yang diusung oleh Tim Berdikari Politeknik Negeri Bali (PNB). Program percontohan yang diberi nama "Implementasi IoT untuk Pertanian Presisi di Kelompok Tani Bumi Amerta" ini merupakan bagian dari Program Katalisator Kemitraan Berdikari, sebuah program yang dibiayai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Minat Saintek).
Proyek ini berlokasi di Dusun Jagatamu, Meliling, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, tempat Kelompok Tani Bumi Amerta menjadi mitra penelitian dan uji coba teknologi.
Sinergi Computer Vision dan IoT dalam Pengendalian Hama
Inti dari inovasi ini adalah Implementasi Computer Vision dan IoT untuk Deteksi Hama dan melakukan monitoring unsur hara tanah guna Peningkatan Produktivitas Tanaman Padi. Kebaruan utama inovasi ini terletak pada penggunaan Internet of Things (IoT) secara terintegrasi dalam pengendalian hama berbasis visual. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi hama burung pada tanaman padi secara otomatis melalui pengolahan citra dan monitoring data tanah sawah pertanian.
Implementasi teknologi Computer Vision dan AI-IoT di lahan pertanian Kelompok Tani Bumi Amerta telah memicu gelombang perubahan yang signifikan, tidak hanya pada aspek teknis budidaya padi, tetapi juga menyentuh dimensi sosial dan ekonomi masyarakat Desa Meliling. Inovasi ini bertindak sebagai katalisator yang mengubah wajah pertanian tradisional menjadi lebih modern dan terukur.
Transformasi Paradigma: Dari Intuisi ke Data Presisi.
Dampak yang paling fundamental dari penelitian ini adalah pergeseran paradigma pengelolaan lahan pertanian. Sebelumnya, keputusan pertanian kapan harus memupuk, berapa banyak takarannya, dan kapan harus menyemprot pestisida didasarkan pada intuisi atau kebiasaan semata. Seringkali, petani memberikan pupuk urea berlebih hanya karena melihat daun padi kurang hijau, tanpa mengetahui apakah tanah sebenarnya kekurangan Nitrogen atau unsur lain. Dengan hadirnya sistem AI-IoT, petani kini memiliki akses terhadap data "kesehatan" tanah mereka secara real-time. Sensor yang tertanam memberikan informasi akurat mengenai pH tanah, kelembaban, serta kadar N, P, dan K. Data ini diolah menjadi rekomendasi tindakan yang spesifik. Hal ini secara langsung mengurangi praktik trial and error yang berisiko merusak tanah dan memboroskan biaya input produksi.
Rekomendasi Pemupukan Berbasis Data Lingkungan
Selain pengendalian hama, sistem ini memiliki peran krusial dalam mengoptimalkan nutrisi tanaman. Perangkat IoT bertugas memonitor berbagai parameter lingkungan yang meliputi: suhu dan kelembaban tanah, pH tanah, EC tanah (daya hantar listrik tanah), kadar unsur hara N, P, dan K, serta suhu dan kelembaban udara. Data yang dikumpulkan dari monitoring lingkungan ini digunakan untuk memberikan rekomendasi jenis dan waktu pemupukan yang paling tepat. Diharapkan, dengan rekomendasi yang spesifik sesuai kondisi tanah, proses pemupukan dapat menjadi lebih efektif bagi tumbuh kembang padi, yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil panen.
Ketua Kelompok Tani Bumi Amerta, Ir. I Gusti Made Bagiada, menyambut baik implementasi ini. "Sistem yang dirancang sudah bisa melakukan monitoring terhadap unsur hara tanah," ujarnya. Ia menambahkan harapannya agar, "nantinya rekomendasi pemupukan yang diberikan oleh sistem bisa berhasil dengan baik dengan harapan nantinya hasil panen bisa meningkat".
Uji Coba Lapangan dan Transformasi Digital
Untuk memastikan akurasi dan efektivitas, uji coba sensor-sensor ini yang berjumlah 12 unit dan dipasang pada lahan sawah seluas 100 are milik Kelompok Tani Bumi Amerta.
Meskipun sistem telah mampu memberikan rekomendasi penggunaan jenis pupuk, realisasi di lapangan masih menghadapi kendala, yakni keterbatasan jenis pupuk yang tersedia bagi petani.
Tim Berdikari PNB juga merencanakan pengembangan lebih lanjut. Pengembangan ini akan mencakup analisis gambar tanaman yang diambil secara periodik menggunakan kamera lapangan, serta mengidentifikasi jenis hama selain burung menggunakan model deep learning yang telah dilatih.
Inovasi ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan hasil panen dan efisiensi penggunaan pestisida, tetapi juga secara langsung mendukung transformasi digital di sektor pertanian , yang selaras dengan agenda nasional smart agriculture. Dengan demikian, teknologi ini menjadi langkah maju yang signifikan dalam mewujudkan pertanian yang lebih cerdas, efisien, dan berkelanjutan di Indonesia.
Dukungan terhadap Pertanian Berkelanjutan dan Energi Hijau
Penelitian ini juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan melalui promosi praktik pertanian berkelanjutan. Dengan adanya rekomendasi pemupukan yang presisi, risiko pencemaran tanah dan air akibat residu pupuk kimia berlebih dapat diminimalisir. Sistem ini mendorong penggunaan pupuk secara rasional sesuai kebutuhan tanaman, bukan berdasarkan keinginan petani. Lebih jauh lagi, seluruh perangkat IoT yang dipasang di lahan pertanian ditenagai oleh energi surya (solar panel). Hal ini sejalan dengan strategi "Bali Hijau" yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Bali, yang menargetkan penggunaan energi bersih dan ramah lingkungan di berbagai sektor, termasuk pertanian. Implementasi ini menjadi contoh nyata (showcase) bagaimana teknologi modern dapat bersinergi dengan upaya pelestarian lingkungan. Rls/red/adv
Ketua Peneliti :
I Gusti Putu Mastawan Eka Putra
Politeknik Negeri Bali
Email : mastawan@pnb.ac.id
Anggota Peneliti ;
I Wayan Raka Ardana (Politeknik Negeri Bali)
I Nyoman Sukarma (Politeknik Negeri Bali)
I Ketut Darminta (Politeknik Negeri Bali)
I Made Adi Yasa (Politeknik Negeri Bali)
I Gusti Agung Oka Sudiadnyani (Politeknik Negeri Bali)
I Gusti Putu Ngurah Alit Darmawan (Politeknik Negeri Bali)
Komentar