Spa Terapist asal Tabanan Ini Meninggal di Singapura, Tagihan Capai 500 Juta

istimewa

Tabanan, suaradewata.com - Sebuah tulisan berjudul "Rindu seorang Ibu dari Bhumi Sagung Wah" yang pertama kali diunggah di halaman Facebook @ekasanthosa pukul 04.00 Wita mendadak viral. Apalagi setelah dibaca, ternyata isinya adalah perihal kisah nyata dari seorang perempuan bernama I Gusti Ayu Nyoman Puspitawati, 46, yang beralamat Banjar Tinungan, Desa Apuan, Kecamatan Baturiti, Tabanan.

Puspitawati merupakan spa terapis yang bekerja di Swiss Hotel, Turkey sejak satu tahun lalu. Ia pun berpamitan kepada suami, Anak Agung Oka Artana dan kedua anaknya Anak Agung Hendra Arta Putra dan Anak Agung Diah Arta Sari dengan kondisi sehat. Ia memutuskan bekerja ke luar negeri untuk memastikan putra dan putrinya itu dapat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

Puspitawati pun bekerja keras di Turkey, hingga tidak jarang melupakan makan. Akibatnya maag yang semula akut menjadi kronis kemudian meluas hingga  wanita tangguh itu tidak lagi kuat menopang diri. 

Menurut perwakilan keluarga, dr. I Gusti Ngurah Putera Eka Santhosa pada tanggal 1 Desember 2019, almarhum berangkat dari Turkey menuju Bali dengan SQ. Namun saat transit di Singapura, dikisahkan oleh perawat almarhum kolaps, hingga kemudian mendapat perawatan intensive di salah satu Rumah Sakit di Singapura. Dan pada Senin (2/12/2019) almarhum menghembuskan nafas terakhir. 

"Pihak RS kemudian menghubungi keluarga, lengkap dengan mengirimkan tagihan RS. Tidak tangung-tanggung jika di rupiahkan mencapai Rp 500 Juta," ujarnya Selasa (3/12/2018).

Hal itu pun langsung membuat  keluarga kaget dan tidak menyangka jika beliau sakit separah itu dan dalam hitungan jam menghabiskan biaya yang tidak pernah dibayangkan keluarga.

Kemudian salah seorang saudara almarhum dari Desa Sengganan, Penebel, Tabanan menghubungi dirinya yang kebetulan merupakan Ketua Umum Paiketan Ageng Trah Shri Arya Sentong dan berprofesi sebagai dokter. "Keluarga menghubungi saya untuk meminta petunjuk bagaimana cara memulangkan jenazah almarhum dari Singapura," imbuhnya.

Kemudian, pria yang juga Ketua Bidang Kesehatan KONI Provinsi Bali ini memanfaatkan jaringan perkawanannya, untuk membantu keluarga besar di Jro Tinungan. Melalui campur tangan Bapak I Ketut Teneng yang membantu menghubungkan dengan Kepala Disnaker Provinsi Bali, Bapak Ida Bagus Arda dan melalui dr. Putu Laksmi Anggari Putri Duarsa,Sp.KK, FINDSDV, membantu menghubungi pihak KBRI Singapura. Ia pun mengaku kaget respon cepat Kepala Disnaker yang langsung menghubunginya jam 22.00 Wita untuk meminta data lebih lengkap dan berkoordinasi dengan BP3TKI Bali menghubungi KBRI Singapura.

Selanjutnya pada tanggal 3 Desember 2019 pagi hari, dr. Ngurah mengunggah perihal biaya dan ketidakmampuan keluarga ke media sosial pada pukul 04.00 Wita sekaligus membuka donasi sehingha bisa membantu pemulangan jemazah almarhum. Dokter yang juga seorang penulis ini kemudian menviralkan tulisannya di media untuk kedua kali. "Dan diluar dugaan pukul 07.45 wita, saya mendapat telepon dari seorang Ibu yang menanyakan kebenaran dan kejelasan dari berita yang diunggah. Diakhir percakapan barulah saya tahu kalau yang menghubungi adalah Ibu Ni Putu Putri Suastini Koster," jelasnya.

Kemudian Ibu Gubernur Bali itu mengerakkan jaringan yang dimiliki untuk membantu memulangkan jenazah Puspitawati ke Bali. Tidak sampai 6 jam, melalui  Kadisnaker Bali menginformasikan hasil koordinasi dengan KBRI, bawasannya Selasa sekitar pukul 22.00 Wita jenasah akan diberangkatkan dari Singapura menuju Jakarta, kemudian ke Bali dan diperkirakan sampai di Airport I Gusti Ngurah Rai, Rabu (4/12/2019) pukul 08.40 Wita.

"Melalui media ini sebagai perwakilan keluarga Besar Jro Tinungan Trah Shri Arya Sentong, mengucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu Gurbernur, Jajaran KONI Provinsi Bali, Kadisnaker beserta BP3TKI, keluarga besar KBBI Singapurura, Garda Puri Sejebag Tabanan (GPST) , Keluaga Besar Pasemetonan Ageng Trah Shri Arya Sentong beserta para donatur yang tidak dapat disebut satu persatu. Dari kejadian ini kita belajar bahwa kesehatan, asuransi dan kehadiran Negara dalam menangani masalah terkait Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri sangat dibutuhkan," tandas dr. Ngurah.

Sementara itu kakak kandung almarhum, I Gusti Ngurah Subrata juga menyampaikan terima kasihnya kepada  semua pihak yang membantu pemulangan jenazah sang adik. "Kami ucapkan berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses pemulangan jenazah adik saya," ujarnya.

Dan menurut informasi terupdate yang ia terima, jenazah adiknya akan segera diterbangkan dari Singapura. Sedangkan biaya pengobatan Rp 500 juta lebih di Singapura masih akan dinegosiasi sehingga keluarga almarhum masih harus mengumpulkan biaya untuk melunasinya. ayu/nop


TAGS :

Komentar

FACEBOOK

TWITTER