Perilaku Barbaristik dalam Politik Aceh

Oleh : Pardiyanto/aga | 07 April 2017 | Dibaca : 2283 Pengunjung

Perilaku Barbaristik dalam Politik Aceh

sumber foto :google

Opini, suaradewata.com - Sangat ironis di jaman modern, dimana pembaruan peradaban yang mengagungkan penghormatan kepada hak asasi manusia (HAM), namun justru kultur kekerasan atau barbaristik menjadi pilihan dalam budaya politik. Lebih disayangkan, budaya barbaristik harus muncul di Aceh Nanggroe Darussalam yang merupakan serambi mekahnya Indonesia. Darussalam sering diartikan rumah Tuhan karena Darussalam adalah surga, sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Darusalam yaitu negeri yang sejahtera atau negeri yang aman, sehingga seharusnya memberikan kesejukan, keamanan dan kenyamanan bukannya kekerasan.

Sekitar pukul 03.30 Wib pada 5 Maret 2017, Juman menderita luka tembak di leher dan Misno menderita luka tembak di perut di Desa Peunaron Baru, Kec. Peunaron, Kab. Aceh Timur. Pelaku penembakan belum diketemukan, sehingga belum diketahui motif penembakan terhadap Juman dan Misno. Selanjutnya, sekitar pukul 03.00 Wib pada 6 Maret 2017, Posko Pemenangan Paslon Bupati – Wabup, Roni Ahmad – Fadhullah di  Seupeng, Kec. Peukan Baro, Kab. Pidie ditembak orang tak dikenal. Sebelumnya, sekitar pukul 02.30 Wib di hari yang sama, mobil Yunus Ismail berupaya dibakar oleh orang tak dikenal, di Gampong Seupeng Kec. Peukan Baro Kab. Pidie sepulangnya  dari posko Timses Roni Ahmad – Fadhullah.

Peristiwa penembakan dan pembakaran kendaraan di Kab. Aceh Timur dan Kab. Pidie, Prov. Aceh, hanya sebagian kecil tindakan kekerasan selama Pilkada di Aceh. Direktur Perludem, Titi Anggraini menyebutkan kekerasan di Aceh yang menggelar 21 Pilkada pada tahun 2017 sebanyak 26 kasus, dimana kekerasan di Aceh Timur sebanyak 30%, Aceh Utara 18%n dan Pidie 19% (Novi Setuningsih, Suara Pembaharuan: 9 Februari 2017). Kekerasan dalam Pilkada tahun 2017 memang menurun dibandingkan Pilkada tahun 2012 sebanyak 167 kasus kekerasan dan 2015 sebanyak 57 kasus kekerasan, namun perilaku atau tindakan kekerasan yang menjadi kultur di Aceh sangat memprihatinkan karena tradisi barbaristik justru muncul dalam kehidupan politik Aceh yang Darussalam. Tradisi kekerasan, penembakan dan pembakaran yang mewarnai kehidupan politik Aceh, memunculkan stereotif  tradisi barbaristik dalam Pilkada Aceh.

Istilah “Barbar” seringkali dikaitkan dengan sekumpulan orang atau suku yang hidup secara primitif dan belum mengenal peradaban (hidup di masa dahulu), dimana kultur kelompok orang atau suku diwarnai dengan kekerasan, sadisme, kekejaman, kebodohan, pelanggaran terhadap norma, keterbelakangan, dan segala tindakan negatif yang bisa dilakukan oleh manusia. Para ilmuwan mendefinisikan “Barbar” sebagai penduduk asli yang mendiami wilayah Afrika Utara di sebelah barat lembah sungai Nil, tersebar dari pantai Atlantik di barat sampai oase Siwa (Mesir) di timur, serta dari pantai Mediterania di utara sampai sungai Niger di selatan. Di masa sekarang, mayoritas orang Barbar adalah penduduk Maroko, Aljazair, Libya, dan Tunisia. Sebagian kecil ada yang menjadi penduduk Mesir, Mali, Mauritania, Burkina Faso, dan Nigeria. Sejarah mencatat terdapat beberapa sebutan lain untuk Barbar. Orang Mesir menyebut mereka Meshwesh. Orang Yunani kuno menyebut mereka Libyans. Orang Romawi menyebut mereka Numidians dan Mauri. Orang Eropa abad Pertengahan menyebut mereka Moors.

Perilaku kekerasan seperti penembakan dan pembakaran dalam pilkada Aceh secara psikologis dikenal sebagai perilaku agresif. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, agresif berarti cenderung (ingin) menyerang kepada sesuatu yang dipandang sebagai hal yang mengecewakan, menghalangi atau menghambat. Kasus perusakan, pembakaran dan penembakan dalam Pilkada Aceh merupakan perilaku violence (kekerasan) secara fisik, bukan verbal (bullying). Pengalaman sejarah masa lalu, dimana Aceh menjadi daerah yang penuh pemberontakan dan menjadi daerah operasi militer (DOM), secara sosial akan membentuk perilaku agresif berupa kekerasan (violence). Sebelum tahun 1998, Aceh  menjadi daerah peperangan dan daerah operasi militer. Hasan Muhammad di Tiro yang memproklamirkan Aceh Merdeka di pegunungan Halimon, Pidie, pada 4 Desember 1976 direspon Pemerintah dengan Operasi Jaring Merah yaitu Daerah Operasi Militer Aceh (1989-1998).

Kondisi perang di Aceh tentunya memicu perilaku violence masyarakat. Dalam pandangan ethologi, setiap orang memiliki insting untuk berkelahi dalam mempertahankan hidup dari ancaman spesies lain, sehingga seseorang akan berbangun perilaku kekerasaan terhadap orang lain yang dianggap menjadi musuh atau yang mengancam dirinya.

Setelah tahun 1998, dimana pada 7 Agustus 1998 Panglima ABRI Jendral TNI Wiranto mengumumkan pencabutan status daerah operasi militer di Aceh menandai berakhirnya peperangan di Aceh. Namun demikian, perilaku kekerasan tidak serta merta hilang dalam peradaban masyarakat di Aceh. Mantan kombatan (yang dikenal dengan eks-GAM) yang ber-reinkarnasi menjadi Komisi Peralihan Aceh (KPA) ataupun Partai Aceh pasca 2005 dan menyebar menjadi pendukung partai lain tidak serta merta dapat merubah perilaku kekerasan yang sudah terbentuk. Terbukti sejak Pilkada 2006, Pilkada 2012, Pilkada 2015 dan Pilkada 2017 tradisi kekerasan masih muncul di Aceh. Persebaran para kombatan dalam mendukung partai politik di Aceh, dituding sebagai pelaku kekerasan dalam Pilkada.

Dorongan perilaku kekerasan masyarakat dalam Pilkada Aceh terlihat ada pergeseran. Dalam Pilkada 2006 dan 2012 masih kuatnya dikotomi Pusat dan Daerah, sehingga insting kekerasan untuk mempertahankan kelompok terhadap dominasi Pemerintah masih kuat. Kekerasan politik masih didominasi Partai Aceh yang didukung banyak kombatan eks-GAM dan direstui oleh masyarakat Aceh. Namun, dalam Pilkada 2015 dan Pilkada 2017, tradisi kekerasan sudah beralih karena adanya dorongan atau keinginan berkuasa. Keinginan berkuasa, juga dapat memicu budaya kekerasan atau barbaristik. Sebagai contoh, Temujin (yang kemudian dikenal sebagai Genghis Khan) pernah bersumpah di masa mudanya untuk membawa dunia di kakinya, sehingga ketika menjadi Pemimpin Mongol (1206), dia membentuk pasukan berkuda yang sangat displin, Anak panah yang mampu merobek baju perang untuk menaklukan wilayah lain. Menurut ahli sejarah R.J. Rummel, diperkirakan sekitar 30 juta orang terbunuh dibawah pemerintahan Kekaisaran Mongolia dan sekitar setengah jumlah populasi Tiongkok habis dalam 50 tahun pemerintahan Mongolia.

Pilkada merupakan proses demokrasi untuk mendudukan pemimpin yang bijak, sehingga harus dilakukan secara bijak tanpa kekerasan. Masa depan Aceh yang modern dan Darussalam, membutuhkan Pemimpin yang dipilih dengan cara yang elegan, sehingga terpilih Pimpin yang demokratis dan amanah.

 

Oleh : Pardiyanto (Pemerhati  Masalah sosial dan Perilaku.Alumnus: Pasca Sarjana Universitas Indonesia)


Oleh : Pardiyanto/aga | 07 April 2017 | Dibaca : 2283 Pengunjung


TAGS : Nusantara




Berita Terkait :

Nusantara, 20 April 2017 19:13
Memahami Penyebab Akut Radikalisme dan Terorisme
Opini, suaradewata.com - Maraknya pemikiran radikalisme hingga tindak perilaku terorisme dewasa i ...
Nusantara, 19 April 2017 22:13
Deradikalisasi dan Deideologisasi
Opini, suaradewata.com - Secara umum kata deradikalisasi dan deideologisasi menjadi suatu pokok b ...
Nusantara, 19 April 2017 22:11
Damailah Pilgub Jakarta Putaran Kedua
Opini, suaradewata.com - Keseruan pertandingan el classico antara club asal spanyol Barcelona dan ...
Nusantara, 18 April 2017 21:41
Tantangan Pemberantasan Terorisme di Indonesia
Opini, suaradewata.com - Belum genap seminggu publik Indonesia kembali dikejutkan dengan peristiw ...
Nusantara, 18 April 2017 21:39
Nawacita: Membangun Indonesia dari Perbatasan
Opini, suaradewata.com - Apa yang akan anda pikirkan ketika mendengar kata “perbatasan&rdqu ...
Nusantara, 09 April 2017 23:45
Waspadai Eskalasi Propaganda Aktivis Pro Papua Merdeka
Opini, suaradewata.com - Manuver politik Vanuatu dan Kepulauan Solomon bersambut dengan menggelia ...
Nusantara, 09 April 2017 23:43
Sukses Pilkada 2017 dan Agenda Perbaikan Pilkada 2018
Opini, suaradewata.com - Hasil rekapitulasi pemungutan suara 101 Pilkada serentak tahun 2017 tela ...
Nusantara, 09 April 2017 01:00
Saatnya Mengambil Alih Freeport
Opini, suaradewata.com - Operasi PT. Freeport Indonesia di Papua telah menimbulkan polemik luas d ...
Nusantara, 09 April 2017 00:57
Perlu Ketegasan Pemerintah Menangani Ormas Radikal
Opini, suaradewata.com - Pada awal tahun 2016, Badrodin Haiti yang kala itu menjabat sebagai Kapo ...
Nusantara, 07 April 2017 19:24
Perilaku Barbaristik dalam Politik Aceh
Opini, suaradewata.com - Sangat ironis di jaman modern, dimana pembaruan peradaban yang mengagung ...


Berita Lainnya :

Tabanan, 29 April 2017 21:38
Curi Hp Di Bagasi Motor, Apri Diciduk Polisi
Tabanan, suaradewata.com - Curi Hp di Bagasi depan sepeda motor yang parkir di depan Ap ...
Tabanan, 29 April 2017 20:42
Tutup Total Jalan, Polsek Kediri Amankan Upacara Ngenteg Linggih
Tabanan, suaradewata.com - Polsek Kediri amankan kegiatan upacara ngenteg linggih di Pu ...
Tabanan, 29 April 2017 15:36
Gepenta Tabanan Tanda Tangani MOU Tolak Radikalisme
Tabanan, suaradewata.com - Gerakan Nasional Peduli Anti Narkoba Tawuran dan Anarkis (Ge ...
Denpasar, 29 April 2017 13:37
PP KMHDI Minta Hary Tanoesoedibjo Perhatikan Aktifitas Partainya di Daerah
Denpasar, suaradewata.com - Sejak munculnya pemberitaan terkait kegiatan Pasupati bendera Partai ...
Gianyar, 29 April 2017 13:32
Meningkatkan Profesional Guru Melalui Seminar PTK
Gianyar, suaradewata.com – 35 guru dari 5 SMP yang ada di Blahbatuh, Ubud dan Gianyar ...
Klungkung, 29 April 2017 12:54
Yoga Massal dan DAHSYAT RCTI Meriahkan Festival Semarapura 3
Klungkung, suaradewata.com - Memeriahkan Festival Semarapura III pemerintah Kabupaten Klungkunng ...
Bangli, 29 April 2017 12:52
Ratusan Ribu Benih Nila Disebar Di Danau Batur
Bangli, suaradewata.com - Salah satu kegiatan serangkaian peringatan HUT Kota Bangli ya ...
Tabanan, 29 April 2017 12:52
Polsek Marga Kerja Bakti Bersihkan Sampah Pasar
Tabanan, suaradewata.com - Guna menciptakan lingkungan yang bersih. Polsek Marga bersam ...
Tabanan, 29 April 2017 12:50
IPSI Tabanan Cup Ditutup, SMA N 2 Tabanan Gondol Piala Bergilir Bupati Tabanan
Tabanan, suaradewata.com - IPSI Tabanan Cup yang berlangsung selama empat hari dari selasa (25/4) ...
Tabanan, 29 April 2017 12:49
Diduga Mengantuk, Alya Salto Di Sawah
Tabanan, suaradewata.com - Diduga mengantuk mengemudikan sebuah kendaraan Alya nopol DK ...

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 

Facebook

Twitter