Awas SARA di Putaran Kedua

Oleh : Ardian Wiwaha/aga | 17 Maret 2017 | Dibaca : 2298 Pengunjung

Awas SARA di Putaran Kedua

sumber foto :google

Opini, suaradewata.com - Pilkada serentak tahun 2017 yang digelar di 101 daerah di Indonesia kemarin berhasil berjalan dengan damai dan lancar. Sujud syukur dapat dihanturkan oleh para stakeholder dan penyelenggara Pilkada, karena setelah sekian lama realisasi pelaksanaan Pilkada serentak tahun 2017 dapat berjalan sesuai dengan harapan dan ekspektasi.

Seperti halnya di Aceh, dimana provinsi yang dijuluki dengan Serambi Mekah tersebut pada pemilukada kali ini berhasil terbebas dari kerusuhan, provokasi, dan intimidasi, yang apabila dilihat dari pengalaman sebelumnya, Aceh memiliki tingkat kerawanan politik yang pasti memakan korban.

Akan tetapi, proses demokrasi tidak hanya berhenti dan fokus terhadap Aceh, berbagai polemik diprediksi akan muncul tatkala beberapa wilayah pilkada serentak seperti halnya DKI Jakarta yang akan melaksanakan Pilkada tahap kedua, yang kini mempertemukan dua tokoh calon gubenur yang masing-masing memiliki pengalaman dan latar belakang berbeda.

 

Ahok dan Djarot

Perbedaan yang mutlak dapat dinyatakan terhadap Pasangan Calon (Paslon) Gubernur DKI Ahok-Djarot dan Anis-Sandi. Bagaimana bisa? Hal ini dapat dilihat dari masing-masing latar belakang dimana Ahok dan Djarot terkenal sebagai politikus tulen yang merangkak dari kursi jabatan paling bawah, sedangkan Anis-Sandi merupakan pasangan kombinasi yang berasal dari kalangan akademisi dan pengusaha tulen.

Akan tetapi, bukan faktor tersebut yang membedakan kedua pasangan secara mutlak. Namun terdapat faktor mutlak lain yang dikhawatirkan akan dijadikan bahan bagi sebagian kelompok kepentingan sebagai dasar memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Suku, Agama, Ras, dan Golongan atau yang dikenal dengan SARA lah, hal yang dikhawatirkan akan dijadikan manuver sebagian kelompok kepentingan untuk merongrong masuk menyelimuti perpolitikan bangsa ini.

Bagaimana bisa? Jelas sangat bisa, ketika Ahok seorang politikus asal Belitung Timur ini berasal dari etnis Tionghoa, seringkali mendapatkan sentimen dari beberapa kelompok pribumi yang sensitif dan memiliki pehamanan egosentris yang hanya menganggap etnis Ahok sebagai etnis pendatang. Terlebih lagi dengan latar belakang agama Ahok, yang jelas bukan pemeluk agama mayoritas di negeri ini. Sangat jelas dan rawan bahwa hal tersebut akan menimbulkan  persepsi kelompok-kelompok radikal yang enggan menaruh kepercayaan diatas sebuah perbedaan.

 

Anis dan Sandi

Berbeda dengan Anis dan Sandi, yangmana keduanya berasal dari suku pribumi dan latar belakang agama Islam yang mendominasi kepercayaan di negeri ini. Anis yang memiliki darah minang sedangkan Sandiaga merupakan putra yang berasal dari daerah Pekanbaru. Tentunya hal tersebut tidak akan menjadi faktor pembeda yang akan dipermasalahkan oleh sebagian besar kelompok kedaerahan di Indonesia. Meskipun demikian, yakinlah hal serupa yakni sentimen dan kebencian kerap kali terbangun oleh kelompok-kelompok yang berdiri dan berasal dari latar belakang dan perbedaan yang  berseberangan.

 

Agus-Sylvi

Perolehan persentase suara yang tidak melebihi angka 20 persen oleh pasangan calon Gubernur nomor urut 1 Agus-Sylvi tidak berhasil mengantarkan keduanya melaju ke putaran kedua Pilgub DKI. Meskipun demikian, paslon Agus-Sylvi tetaplah memiliki peranan penting terhadap pencapaian kedua calon lain untuk duduk di kursi DKI 1.

Ketika perolehan pasangan Ahok-Djarot dan Anis-Sandi hanya mencapai angka rata-rata 40 persen, tentu perolehan suara 20 persen Agus-Sylvi menjadi pertimbangan kedua calon lain untuk menggalang dan membentuk sebuah koalisi. Meskipun belum diketahui kemana arah politik Agus-Sylvi akan berlabuh, namun yang pasti kesamaan latar belakang dapat menjadi salah satu landasan bagi Paslon nomor urut 1 ini untuk menapakkan kaki nya menuju sebuah kemenangan, meskipun kadang politik memang sulit untuk ditebak.

 

Awas isu SARA

Menyikapi potensi kerawanan terkait perbedaan yang terjadi di Pilkada DKI selaku barometer politik bangsa ini, publik diharuskan bersikap dewasa dan mulai menaruh perhatian dari kacamata yang objektif.

Objektif disini diartikan sebagai perspektif atau cara pandang yang adil dan bijaksana dengan menggunakan bingkai Pancasila dan UUD 1945 sebagai filter dalam menyikapi isu dan perbedaan etnis dan latar belakang keduanya.

“Politik boleh hangat, namun hati harus tetap dingin”, hal ini dapat diungkapkan ketika nanti para buzzer dan juru kampanye masing-masing pendukung mulai melakukan berbagai manuver bodoh yang memicu perpecahan demi memenangkan masing-masing Paslon.

Disinilah peran kita, selaku masyarakat yang memiliki andil dan pengaruh juga berperan sebagai agen pengontrol terhadap netralitas suasana politik dan toleransi kebudayaan ibu pertiwi. Karena cepat atau lambat, yakinlah isu SARA dalam putara kedua Pilkada DKI, pasti akan diangkat oleh masing-masing tim pendukung atau kelompok kepentingan, entah itu digunakan sebagai alat kampanye gelap atau mungkin sengaja diciptakan dengan misi merongrong stabilitas negara demi sebuah kepentingan.

 

Oleh : Ardian Wiwaha (Mahasiswa FISIP Universitas Indonesia)


Oleh : Ardian Wiwaha/aga | 17 Maret 2017 | Dibaca : 2298 Pengunjung


TAGS : Nusantara




Berita Terkait :

Nusantara, 21 Maret 2017 16:20
Menyoal Perselisihan Antara Sby-Antasari Azhar
Opini, suaradewata.com - Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar menuding ...
Nusantara, 21 Maret 2017 16:15
Menyikapi Kasus Freeport
Opini, suaradewata.com - Sudah sekitar 45 tahun aktivitas pertambangan oleh PT Freeport-McMoran I ...
Nusantara, 20 Maret 2017 18:02
Menggairahkan Perfilman Nasional
Opini, suaradewata.com - Banyak orang tidak tahu bahwa tanggal 30 Maret merupakan salah satu hari ...
Nusantara, 20 Maret 2017 17:58
Komunisme: Antara Ilusi dan Realita
Opini, suaradewata.com - Sejarah mencatat, PKI pernah memberontak tahun 1948, menjadi pemenang ke ...
Nusantara, 19 Maret 2017 17:52
Kebersamaan dalam Deradikalisasi
Opini, suaradewata.com - Pembahasan mengenai makna deradikalisasi dewasa ini masih cukup kontrove ...
Nusantara, 19 Maret 2017 17:50
Gebrakan Presiden Jokowi Dalam Membangun Papua
Opini, suaradewata.com - Tokoh masyarakat Papua yang juga  menjabat Anggota Komnas HAM, ...
Nusantara, 18 Maret 2017 17:52
Evaluasi dan Dinamika Putaran Kedua Pilgub DKI Jakarta
Opini, suaradewata.com - Hasil Pilgub DKI Jakarta 2017 telah diketahui melalui real count versi S ...
Nusantara, 18 Maret 2017 17:50
Awas, Komunis Gaya Baru
Opini, suaradewata.com - Meningkatnya ekshalasi ancaman bahaya laten komunisme di Indonesia mulai ...
Nusantara, 17 Maret 2017 09:55
Awas SARA di Putaran Kedua
Opini, suaradewata.com - Pilkada serentak tahun 2017 yang digelar di 101 daerah di Indonesia kema ...
Nusantara, 17 Maret 2017 09:32
20 Tahun IORA Indonesia Ukir Sejarah
Opini, suaradewata.com - Maret 2017 menjadi periode yang sangat sibuk dan momentum sejarah bagi I ...


Berita Lainnya :

Denpasar, 23 Maret 2017 21:29
Desa Adat Minta Bagi Hasil Tiket Masuk Pulau Menjangan
Denpasar, suaradewata.com - Pulau Menjangan memiliki tiga desa adat. Selain itu, pulau ...
Tabanan, 23 Maret 2017 21:07
Bupati Eka Hadiri Persembahyangan di Pura Penataran Agung Ulun Danu Beratan
Tabanan, suaradewata.com – Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti menghadiri perse ...
Buleleng, 23 Maret 2017 21:01
Optimis Diusung, Ini Syarat Pendamping Sudikerta di Pilgub Bali 2018
Buleleng, suaradewata.com - Ketut Sudikerta yang juga Wakil Gubernur Bali, memastikan diri m ...
Gianyar, 23 Maret 2017 20:28
Polisi Tangkap Judi Ceki Saat Tengah Malam
Gianyar, suaradewata.com - Jajaran Reskrim Polres Gianyar berhasil menciduk 5 orang judi cek ...
Gianyar, 23 Maret 2017 20:23
Operasi Cipkon, Polsek Ubud Amankan Ratusan Liter Arak
Gianyar, suaradewata.com – Menjelang perayaan Pangerupukan pada Senin (27/3), kepolisi ...
Buleleng, 23 Maret 2017 19:49
Rencana Jalan Shortcut, Pemerintah Pusat Disebut "Berkomitmen Penuh"
Buleleng, suaradewata.com - Rencana pembangunan Jalan Shorcut, menjadi prioritas utama untuk ...
Tabanan, 23 Maret 2017 19:49
Hoax Ancam NKRI, AMO Bali Deklarasikan Anti Hoax
Tabanan, suaradewata.com– Berita-berita hoax selain sering membuat kegaduhan juga kerap men ...
Denpasar, 23 Maret 2017 19:48
Bali Perjuangkan Nyepi Tanpa Siaran Masuk UU Penyiaran
Denpasar, suaradewata.com - DPRD Provinsi Bali, memberikan atensi khusus pada revisi UU ...
Tabanan, 23 Maret 2017 19:46
Pemkab Tabanan Gelar Makan Daging Babi Bersama
Tabanan, suaradewata.com - Guna meyakinkan masyarakat untuk tidak ragu mengkonsumsi dag ...
Tabanan, 23 Maret 2017 19:25
Ida Ayu Candrawati Mengucapkan Selamat Hari Raya Nyepi
Partai Nasdem kabupaten Tabanan Mengucapkan Rahajeng Nyangra Rahina Nyepi Caka 1939 ...

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 

Facebook

Twitter