Mengingatkan Bahaya Konflik SARA

Oleh : Aprison Mandela | 01 Maret 2017 | Dibaca : 2787 Pengunjung

Mengingatkan Bahaya Konflik SARA

Opini, suaradewata.com - Pasca pelaksanaan seratus satu Pemilihan Kepala Daerah Serentak beberapa hari yang lalu (15/2), publik nusantara masih terfokuskan kepada salah satu wilayah yang “katanya” merupakan barometer tingkat kemajuan perpolitikan Indonesia.

DKI Jakarta, Provinsi yang lengkap dengan heterogenitas penduduknya seolah tak pernah padam memancarkan berbagai cahaya warna, mulai dari perbedaan kesukuan, agama, ras, golongan, bahkan aspek perbedaan lain yang kini mulai menyeruak seperti sisi ekonomi, sosial, hingga perspektif politik.

Membahas perspektif politik pada Pilkada Serentak DKI 2017, rasanya tak akan pernah habis bagaikan bumi bulat tak berujung. Peraturan yang mengharuskan syarat kemenangan sebuah Pilkada yakni 50% plus satu, berhasil mengkerucutkan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI yang semula tiga, kini disisakan dengan rivalitas dua pasangan calon yakni Ahok-Djarot dan Anies-Sandi. 

Telah disangka, mengetatnya perebutan kursi di Pilkada DKI akan melahirkan sebuah istilah “kompor” yang terus menerus akan membenamkan publik, perihal sentimensi  Kesukuan, Ras, Agama, dan Golongan yang dibalut menjadi sebuah amunisi demi mendapatkan sebuah kursi DKI 1. Terlebih dengan adanya salah satu calon yakni Ahok, memiliki latar belakang yang dianggap oleh beberapa kelompok sentimentris berbeda secara umum lantaran berasal dari etnis yang dianggap pendatang sekaligus pemeluk agama minoritas.

Maka tak ayal beberapa pihak dan kelompok kepentingan justru melupakan peluang terciptanya konflik SARA yang bersifat komunal, serta potensi mengalirkan ribuan liter darah dan nyawa untuk kesekian kali apabila SARA secara terus menerus dikombinasikan dengan sebuah kepentingan politik pragmatis.

Konflik Suku Sampit Tahun 2001

Berdasarkan Jurnal yang berjudul Konflik Dayak-Madura di Kalimatan Tengah karangan Ruslikan, Dosen bidang Ilmu Sosial FKIP Universitas Palangkaraya Tahun 2001, di Provinsi Kalimatan Tengah, sempat meledak konflik antara etnik Dayak dan Etnik Madura pada awal tahun 2001. Konflik tersebut menurut salah satu pakar sosiologi dan antropologi Selo Soemardjan, sebenarnya merupakan konflik yang bersifat laten atau dengan kata lain konflik yang terbenam dibagian atas namun terus mengakar dibagian bawah. Hal tersebut.pecah dan semakin memakan banyak korban tatkala permasalahan tersebut dikombinasikan dengan SARA yakni isu tewasnya seorang warga Dayak yang dibunuh oleh warga Madura hingga dugaan kasus pemerkosaan gadis Dayak.

Konflik Agama Ambon Tahun 1999

Selanjutnya konflik SARA yang tak kalah tragis terjadi pada awalan era reformasi tahun 1999 di Ambon. Kerusuhan besar-besaran yang melanda masyakarat Ambon sejak bulan Januari tahun 1999, berkembang menjadi sebuah pembantaian brutal yang merampas ribuan jiwa serta menghancurkan tatanan keharmonisan kehidupan bermasyarakat. Konflik tersebut semakin memuncak dan meledak ketika beberapa kelompok mulai mengumandangkan bendera perang dengan pernyataan provokatif dan membuat garis pembatas antara agama Islam dan Nasrani.

Konflik Etnis Tahun 1998

Masih terngiang jelas di benak para pejuang orde reformasi, catatan sejarah perihal krisis moneter yang terjadi di tahun 1998 berhasil menciptakan jurang kesenjangan sosial dan ekonomi. Krisis moneter yang semula hanya mengundang sentimen kelompok mahasiswa terhadap arogansi pemerintahan Presiden Soeharto justru berlanjut terhadap kerusuhan yang menular pada konflik antar etnis pribumi dan Tionghoa, dimana banyak aset yang dimiliki etnis Tionghoa konon dijarah dan dibakar oleh massa yang emosi. Bahkan tak segan sampai disana, tindak kekerasan dan pelecehan seksual terhadap para wanita dari etnis Tionghoa kala itu juga menjadi catatan kelam konflik SARA yang sempat terjadi hampir dua dasawarsa silam.

Konflik Antar Golongan Tahun 2000

Salah satu kemajemukan Bangsa Indonesia yang harus dibanggakan dan tak dikenal oleh bangsa lain adalah kemajemukan dari sisi beragama. Indonesia yang memiliki banyak golongan dalam sebuah agama, dicontohkan dengan salah satunya antara lain agama Islam.

Posisi Islam yang eksis dikenal dengan golongan Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, sempat tergerus sentimensi tatkala kelahiran golongan Ahmadiyah yang sempat memicu kontroversi dikalangan para ulama bangsa ini. Melalui ajaran yang dianggap menyimpang dan dipelintir dari sumber Al-Quran, Sunnhah, hingga hadists-hadits para sahabat Rasul, eksistensi golongan Ahmadiyah di ibu pertiwi sempat menjadi trending topik tatakala kelompok ini diketahui “nyeleneh”  lantaran salah satu kepercayaan mereka yang mengakui bahwa Mirza Gulam Ahmad sebagai Nabi terakhir umat Islam. Begitupun dengan konflik antar golongan yakni Syiah dan Sunni. Dimana keberadaan kelompok syiah sempat menjadi target pembersihan dari ormas-ormas keagamaan dalam negeri, lantaran ajaran yang mereka bawa cenderung bersifat sesat.

Dari keempat sampel tragedi diatas, tidak dapat dipungkiri bahwa riwayat konflik dan sentimen SARA yang panjang dimasyarakat Indonesia, masih bersifat laten hingga saat ini. Minimnya kesadaran dan kedewasaan yang terbentuk didiri masyarakat Indonesia, merupakan dampak dari pengotakan sistem politik jangka pendek yang hanya mementingkan ego dan nafsu sebagian kelompok belaka.

Apabila dikaitkan dengan pesta demokrasi saat ini, proses kampanye yang dilakukan oleh beberapa kelompok kepentingan politik rawan akan isu SARA. Terlebih dengan semakin demokratisnya perpolitikan Indonesia yang perlahan namun pasti, mulai mengakomodir bagian per bagian masyarakat minoritas dalam negeri, untuk turut adil berpartisipasi dalam menjalankan tatanan keutuhan Pemerintahan Republik Indonesia.

Tentunya perbedaan antara kelompok minoritas dan mayoritas tersebut dapat dipastikan akan membangunkan sikap primordialisme dan etnosentrisme masing-masing kelompok. Padahal didalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pemilihan Kepala Daerah, telah diatur perihal definisi Kampanye Hitam atau Black Campaign, yang didalamnya mengakomodir kampanye untuk menjatuhkan lawan politik melalui isu-isu yang tidak berdasar seperti halnya isu SARA.

Prediksi terkait maraknya isu SARA yang diumbar beberapa kelompok kepentingan politik sebagai amunisi persiapan Pemilukada tahap kedua 14 April mendatang, hendaknya kembali ditelaah dan dicermati secara seksama. Jangan malah karena sebuah kekuasaan malah justru hak dan aspek kemanusiaan dilupakan. Jangan juga karena sebuah uang semua lini terlena dan melupakan aspek ke-Bhinekaan.

Perlu diingat bahwa kemerdekaan Bangsa ini mutlak tercipta karena sandaran heterogenitas bangsa yang tiada taranya. Bukan karena satu suku, satu agama, satu ras, ataupun satu golongan saja.

Hanya mengingatkan bahwa dampak dan efek yang dihasilkan dari sebuah konflik SARA bukan sekedar harta dan nyawa semata, namun lebih dari pada itu, coba bertolak kepada persatuan dan kesatuan Bangsa apakah tetap eksis saat semua memadu kepentingan diatas perbedaan yang ada?

 

 

Oleh: Aprison Mandela(Mahasiswa Pasca Sarjana Hubungan Internasional Universitas Indonesia)


Oleh : Aprison Mandela | 01 Maret 2017 | Dibaca : 2787 Pengunjung


TAGS : Nusantara




Berita Terkait :

Nusantara, 20 April 2017 19:13
Memahami Penyebab Akut Radikalisme dan Terorisme
Opini, suaradewata.com - Maraknya pemikiran radikalisme hingga tindak perilaku terorisme dewasa i ...
Nusantara, 19 April 2017 22:13
Deradikalisasi dan Deideologisasi
Opini, suaradewata.com - Secara umum kata deradikalisasi dan deideologisasi menjadi suatu pokok b ...
Nusantara, 19 April 2017 22:11
Damailah Pilgub Jakarta Putaran Kedua
Opini, suaradewata.com - Keseruan pertandingan el classico antara club asal spanyol Barcelona dan ...
Nusantara, 18 April 2017 21:41
Tantangan Pemberantasan Terorisme di Indonesia
Opini, suaradewata.com - Belum genap seminggu publik Indonesia kembali dikejutkan dengan peristiw ...
Nusantara, 18 April 2017 21:39
Nawacita: Membangun Indonesia dari Perbatasan
Opini, suaradewata.com - Apa yang akan anda pikirkan ketika mendengar kata “perbatasan&rdqu ...
Nusantara, 09 April 2017 23:45
Waspadai Eskalasi Propaganda Aktivis Pro Papua Merdeka
Opini, suaradewata.com - Manuver politik Vanuatu dan Kepulauan Solomon bersambut dengan menggelia ...
Nusantara, 09 April 2017 23:43
Sukses Pilkada 2017 dan Agenda Perbaikan Pilkada 2018
Opini, suaradewata.com - Hasil rekapitulasi pemungutan suara 101 Pilkada serentak tahun 2017 tela ...
Nusantara, 09 April 2017 01:00
Saatnya Mengambil Alih Freeport
Opini, suaradewata.com - Operasi PT. Freeport Indonesia di Papua telah menimbulkan polemik luas d ...
Nusantara, 09 April 2017 00:57
Perlu Ketegasan Pemerintah Menangani Ormas Radikal
Opini, suaradewata.com - Pada awal tahun 2016, Badrodin Haiti yang kala itu menjabat sebagai Kapo ...
Nusantara, 07 April 2017 19:24
Perilaku Barbaristik dalam Politik Aceh
Opini, suaradewata.com - Sangat ironis di jaman modern, dimana pembaruan peradaban yang mengagung ...


Berita Lainnya :

Tabanan, 23 April 2017 21:42
Belasan Karung Cengkeh Digondol Maling, Petani Cengkeh Pupuan Rugi 86 Juta
Tabanan, www.suaradewata.com – Salah satu petani cengkeh di Banjar Dinas Palisan ...
Tabanan, 23 April 2017 21:41
Persempit Gerak Teroris, Polsek Pupuan Sidak Duktang
Tabanan, www.suaradewata.com -Guna mempersempit ruang gerak teroris masuk wilayah Kecam ...
Tabanan, 23 April 2017 20:56
Selfie di Sungai, Pelajar Tewas Tenggelam
Tabanan, suaradewata.com– Asik mandi dan selfie di sungai Yeh Panahan, lingkungan Taman Sar ...
Tabanan, 23 April 2017 20:05
Delegasi Pramuka se Asia-Pasifik Disambut Okokan
Tabanan, suaradewata.com – Penyambutan para Delegasi Pramuka se Asia-Pasifik (9 Asia-P ...
Tabanan, 23 April 2017 20:04
Sanjaya Apresiasi Lomba Mancing di Banjar Sakeh
Tabanan, www.suaradewata.com - Gelar Penggalian Dana berupa lomba mancing di saluran ir ...
Tabanan, 22 April 2017 22:40
Dari 7 Penambang Paras Ilegal di Sarwagenep, 1 Ditangkap dan Kini Wajib Lapor
Tabanan, www.suaradewata.com – Karena tidak mengantongi ijin yang sah, satu orang ...
Tabanan, 22 April 2017 22:05
Balapan Liar di Pantai Mekayu, 7 Motor Diamankan, Penonton Dihukum Push Up
Tabanan, www.suaradewata.com –Balapan liar memang kerap membahayakan lantaran tid ...
Tabanan, 22 April 2017 21:46
Ditabrak dari Belakang, Pengendara Grand Masuk RS
Tabanan, www.suaradewata.com – Pengendara sepeda motor honda grand nopol DK 5079 ...
Tabanan, 22 April 2017 21:42
Antisipasi Teroris, Polisi Sidak Pekerja Proyek
Tabanan, suaradewata.com - Guna menciptakan situasi aman dan kondusif di wilayah Kecama ...
Denpasar, 22 April 2017 21:37
Wagub Ajak Generasi Muda Tingkatkan Pengamalan Nilai Pancasila
Denpasar, suaradewata.com - Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta mengajak segenap lapisan masyarak ...

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 

Facebook

Twitter