PT Suara Dewata Media - Suara dari Pulau Dewata

Jalan Anyelir I, Nomor 4A, Desa Dauh Peken, Kec. Tabanan, Kab. Tabanan, Bali

Call:0361-8311174

info@suaradewata.com

Setelah 68 Tahun, Tradisi Sakral Sanghyang Jaran Bangkit lagi di Pura Ambengan

Sabtu, 06 Desember 2025

20:00 WITA

Karangasem

5093 Pengunjung

PT Suara Dewata Media - Suara dari Pulau Dewata

Tradisi sakral Sanghyang Jaran kembali dipentaskan di Pura Ambengan, Rahina Sukra Kajeng Manis, Sasih Keenam, 5 Desember 2025.

Karangasem, suaradewata.com – Setelah sempat vakum 68 tahun, sejak sejak erupsi Gunung Agung tahun 1963, kini Pengempon Pura Ambengan di Banjar Timbul, Desa Adat Padangkerta, Karangasem, kembali membangkitkan tradisi sakral Sanghyang Jaran. Tradisi sakarl dan unik itu digelar bertepatan dengan Rahina Sukra Kajeng Manis, Sasih Keenam, 5 Desember 2025.

Seperti diketahui Pura Ambengan dikenal sebagai tempat berstana Betara Hyang Geni Jaya, dengan ciri khas adanya pohon cemara Bali yang tumbuh di kawasan pura sebagai simbol kesucian dan kekuatan spiritual.

Tradisi Sanghyang Jaran sempat terhenti karena penarinya pada masa itu, I Gusti Nyoman   Kadiana, meninggal sebelum terjadinya erupsi Gunung Agung. Sejak saat itu, tradisi ini tidak lagi dapat dilaksanakan di Pura Ambengan.

Keinginan untuk menghidupkan kembali taksu Sanghyang Jaran mendorong pengempon pura untuk mencari penuntun ke Puraa Pejenengan di Geriana Kauh, salah satu pura yang masih menjaga dan mensakralkan tradisi tersebut secara turun-temurun. Atas petunjuk Jero Mangku Putu, ditetapkan bahwa Sasih Keenam, 5 Desember 2025 bertepatan dengan Rahina Sukra Kajeng Manis, merupakan hari baik untuk memulai prosesi *nedunang dan menarikan kembali Sanghyang Jaran.

Pelaksanaan tradisi ini dipimpin oleh dua penari yang juga pengempon Pura Ambengan, yakni I Gusti Nengah Kaler dan I Gusti Gede Sari. Keduanya dipercaya untuk meneruskan warisan leluhur yang telah lama tidak tersentuh.

Sebagai koordinator pelaksanaan sanghyang jaran I Gusti Gede Purna, menyampaikan bahwa kebangkitan kembali tradisi Sanghyang Jaran merupakan langkah penting untuk memulihkan nilai-nilai spiritual sekaligus merawat identitas budaya masyarakat setempat. “Tradisi ini bukan hanya tarian sakral, tetapi juga bagian dari jati diri kami sebagai krama Pura Ambengan. Setelah puluhan tahun terhenti, kini saatnya kami kembali menyambungkan hubungan spiritual yang sempat terputus,” ujarnya.

Kembalinya pelaksanaan Sanghyang Jaran diharapkan menjadi momentum pelestarian budaya serta memperkuat keharmonisan dan kesucian dalam kehidupan adat masyarakat Desa Padangkerta. Rls/red/kris


Komentar

Berita Terbaru

\