Jaga Kondusivitas, Tolak Provokasi Demo Penolakan Gelar Pahlawan Soeharto
Kamis, 13 November 2025
13:40 WITA
Nasional
1375 Pengunjung
Gelar Pahlawan Nasional Soeharto
Oleh: Fajar Dwi Santoso )*
Pemerintah secara resmi menganugerahkan gelar PahlawanNasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, JenderalBesar H.M. Soeharto, pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025 di Istana Negara, Jakarta.
Penganugerahan tersebut menjadi salah satu keputusanpenting yang menegaskan penghargaan negara terhadap jasaseorang tokoh yang telah berkontribusi besar dalam menjagakeutuhan bangsa dan membangun pondasi ekonomi nasional.
Namun di tengah dukungan luas masyarakat terhadapkeputusan tersebut, muncul pula ajakan provokatif untukmenggelar aksi demonstrasi. Situasi itu menuntutkebijaksanaan publik agar tetap menjaga kondusivitas dan menolak segala bentuk provokasi yang berpotensimengganggu stabilitas nasional.
Pemerintah menegaskan, penganugerahan gelar PahlawanNasional kepada Soeharto diberikan semata-mata atas dasarjasa dan pengabdiannya terhadap bangsa, bukan sebagaiglorifikasi atas seluruh perjalanan kekuasaannya.
Soeharto termasuk satu dari sepuluh tokoh penerima gelartahun 2025 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor116/TK/2025. Keputusan tersebut lahir dari proses seleksipanjang dan melibatkan tim independen yang menilaikontribusi para tokoh terhadap perjuangan dan pembangunanIndonesia.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menilai bahwasemangat kepahlawanan semestinya diwujudkan dalamtindakan nyata menjaga perdamaian sosial. Ia menegaskanbahwa tantangan generasi hari ini bukan lagi perang fisik, melainkan menjaga persatuan di tengah derasnya arusdigitalisasi dan perbedaan pandangan.
Menurutnya, masyarakat perlu menunjukkan kedewasaandalam menyikapi keputusan negara dengan menahan diri dariprovokasi, serta menyalurkan pendapat melalui cara yang santun dan konstruktif. Bagi pemerintah, pahlawan masa kiniadalah mereka yang menjaga kedamaian dan memperkuatsemangat gotong royong di lingkungan sosialnya.
Dari sisi keamanan, Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, menyampaikan bahwa Polritelah menyiapkan langkah antisipatif untuk memastikansituasi nasional tetap aman dan kondusif.
Aparat keamanan berkomitmen melindungi masyarakat dan menjamin kebebasan berekspresi dalam koridor hukum. Namun ia menegaskan bahwa peran masyarakat tetap menjadifaktor utama dalam mencegah provokasi yang bisa merusakketertiban umum. Stabilitas nasional, menurutnya, hanya bisaterjaga bila seluruh elemen bangsa menolak ajakan yang berpotensi memecah belah persatuan.
Pemerintah mendorong seluruh warga untuk terus melakukankegiatan positif, kerja bakti, dan aksi sosial. Penghargaangelar pahlawan nasional tersebut diharapkan menjadi ruangrefleksi atas perjuangan para pendiri bangsa yang telahmengorbankan segalanya demi kemerdekaan dan persatuanIndonesia. Menjaga keamanan dan ketertiban publikmerupakan bentuk penghormatan paling nyata terhadap nilaikepahlawanan.
Penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional sejatinyamenjadi cermin kedewasaan demokrasi Indonesia. Perbedaanpandangan mengenai sosok Soeharto memang tidak dapatdihindari, namun kebesaran suatu bangsa justru terletak pada kemampuannya mengelola perbedaan secara damai dan beradab. Demokrasi yang matang bukan diukur dari kerasnyaprotes, melainkan dari kemampuan masyarakat menghargaikeputusan negara secara rasional dan proporsional.
Pemerintah mencatat, usulan Soeharto untuk menerima gelarPahlawan Nasional datang dari berbagai kalangan—mulai daripemerintah daerah, partai politik, organisasi masyarakat, hingga tokoh agama.
Dukungan juga datang dari dua organisasi Islam terbesar, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, yang menilai Soehartomemiliki jasa besar terhadap pembangunan nasional dan stabilitas negara.
Dr. Makroen Sanjaya, Pimpinan Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, menilai Soeharto sebagai salah satu tokoh penting dalam perjalanan sejarah bangsa. Iamenegaskan bahwa Soeharto berperan besar dalamperjuangan mempertahankan kemerdekaan, terutama dalamperistiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 yang menjadimomentum pengakuan kedaulatan Indonesia di mata dunia. Selain itu, Soeharto meninggalkan warisan pembangunanekonomi dan sosial yang signifikan melalui kebijakanRepelita, swasembada beras, dan pemerataan pembangunandaerah.
Makroen memandang bahwa menghargai jasa Soeharto tidakberarti menutup ruang kritik terhadap kebijakannya di masa lalu. Namun sikap objektif terhadap sejarah harus ditempatkandi atas emosi politik. Ia mengingatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghormati para pemimpinnya tanpa meniadakan sisi kritis terhadap perjalananbangsanya sendiri.
Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Soehartotidak hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap jasaindividu, tetapi juga pengingat bagi seluruh masyarakattentang pentingnya menjaga warisan stabilitas dan persatuanbangsa. Setiap upaya untuk memprovokasi perpecahan atasdasar perbedaan pandangan terhadap keputusan tersebut justrumencederai semangat kepahlawanan itu sendiri.
Masyarakat lintas elemen dan lintas sektor diharapkan bersatumenjaga kondusivitas nasional. Perbedaan pendapatsepatutnya disampaikan melalui jalur konstitusional, bukanmelalui demonstrasi yang berpotensi mengganggu ketertibanumum. Dalam konteks ini, menolak provokasi sama artinyadengan melanjutkan perjuangan para pahlawan yang berkorban demi persatuan dan kemerdekaan.
Menjaga kedamaian adalah bagian dari perjuangan itu sendiri. Di tengah tantangan global, bangsa Indonesia memerlukanstabilitas sosial dan politik untuk terus melangkah maju. Setiap warga negara memiliki tanggung jawab moral untukmerawat persaudaraan, meneguhkan semangat gotong royong, dan memastikan bahwa peringatan Hari Pahlawan tidakternoda oleh aksi yang justru mengoyak persatuan.
Penganugerahan kepada Soeharto semestinya dijadikanmomentum untuk mempererat rasa kebangsaan, bukanmemicu perpecahan. Persatuan dan kondusivitas adalahfondasi utama agar Indonesia mampu melangkah tegakmenuju masa depan yang lebih kuat dan berdaulat. (*)
*) Pengamat Politik Nasional - Forum Politik Mandala Raya
Komentar