PT Suara Dewata Media - Suara dari Pulau Dewata

Jalan Anyelir I, Nomor 4A, Desa Dauh Peken, Kec. Tabanan, Kab. Tabanan, Bali

Call:0361-8311174

info@suaradewata.com

Wakil Ketua Dewan Minta Tokoh Adat dan Agama Dilibatkan, Soal Kapal Pesiar Danau Batur

Rabu, 01 Oktober 2025

19:00 WITA

Bangli

2447 Pengunjung

PT Suara Dewata Media - Suara dari Pulau Dewata

Komang Carles. SD/Ist

Bangli, suaradewata.com - Wakil Ketua DPRD Bangli I Komang Carles meminta  tokoh adat dan agama dilibatkan  dalam rencana pengeoperasian kapal pesiar di Danau  Batur. Pemkab Bangli diingatkan agar tak grasa-grusu dalam merealisasikan kerjasama dengan investor Korea tersebut. “Kita harap pihak Perseroda juga melibatkan tokoh adat, agama dan warga sekitar dalam rencana tersebut,”ujar Wakil Ketua DPRD Bangli I Komang Carles, Rabu (1/10).

Dia lantas meminta Pemkab Bangli memperhatikan aspek skala-niskala, misalnya kesucian pura. Jadi jangan hanya terpaku pada potensi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD)lantas mengabaikan potensi dampak lingkungan. “Siapa yang bisa menjamin aktivitas wisata itu tidak menimbulkan pencemaran, meski investor mengklaim unit usahanya yang dijalankan ramah lingkungan. Sebab, meski diklaim ramah lingkungan, namun belum bisa menjamin nantinya tak membuang limbah ke perairan Danau Batur,”katanya. 

Dia menegaskan sebelum MoU dilanjutkan lebih jauh, perlu ada pelibatan tokoh adat dan pemuka agama yang memahami aspek kesucian secara niskala. Dia juga meminta pemerhati lingkungan juga harus dilibatkan agar rencana besar tersebut tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.  Dia kemudian mencontohkan dengan investasi PT Tanaya Pesona Batur di kawasan Wisata Alam Bukit Gunung Batur Bukit Payang yang  hingga kini masih menyisakan masalah dengan sejumlah warga. “Kita minta  jangan buru-buru sesuatunya harus dikajadi dan suara masyarakat juga harus didengarkan,”pintanya.

Dia juga menyinggu Danau Batur masuk dalam visi Pemprov Bali Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yakni Danu Kertih. Apalagi, Danau Batur sering dimanfaatkan untuk ritual penyucian secara niskala, seperti mulang pakelem atau bentuk lainnya oleh masyarakat di seputaran danau maupun Bali umumnya. “Semua aspek harus dipikirkan sebelum rencana ini direalisasikan,”pungkasnya. (ard/red


Komentar

Berita Terbaru

\